FACEINDONESIA.CO.ID – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) kembali mencatat kabar positif dari upaya konservasi satwa liar di bentang alam Kerinci Seblat, Sumatera Barat. Hasil pemantauan menggunakan kamera jebak (camera trap) menunjukkan dua anak Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang pertama kali terdeteksi pada September 2025 kini tumbuh sehat dan berkembang dengan baik.
Temuan tersebut menjadi sinyal bahwa proses reproduksi Harimau Sumatera masih berlangsung secara alami.
Selain itu, habitat di kawasan tersebut dinilai masih mampu menopang kehidupan satwa langka yang dilindungi tersebut.
Keberhasilan kedua anak harimau bertahan hingga memasuki fase remaja juga mencerminkan efektivitas perlindungan habitat serta pengamanan kawasan konservasi.
Capaian ini sejalan dengan komitmen Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalam memperkuat program pelestarian satwa liar.
Kemenhut terus meningkatkan perlindungan habitat melalui patroli rutin, pemanfaatan teknologi pemantauan berbasis sains, penegakan hukum terhadap kejahatan satwa liar, serta kolaborasi dengan pemerintah daerah, lembaga konservasi, masyarakat, dan mitra internasional.
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Satyawan Pudyatmoko, mengatakan hasil pemantauan tersebut menunjukkan pentingnya pengelolaan kawasan konservasi dan hutan penyangga secara berkelanjutan.
Pemantauan dilakukan oleh tim Balai Taman Nasional Kerinci Seblat bersama Yayasan Konservasi Hutan Harimau menggunakan jaringan kamera jebak yang dipasang di sejumlah titik. Identifikasi dilakukan melalui pola loreng unik setiap individu sehingga dipastikan harimau yang terekam pada 2026 merupakan individu yang sama dengan hasil dokumentasi tahun sebelumnya.
“Setiap anak harimau yang berhasil tumbuh dan bertahan hidup di alam liar adalah harapan bagi masa depan konservasi Indonesia,” ujar Satyawan di Jakarta, Selasa (28/7).
Menurutnya, pemantauan jangka panjang sangat penting untuk mengetahui perkembangan populasi Harimau Sumatera, termasuk tingkat keberhasilan reproduksi dan kelangsungan hidup anak harimau.
Meski demikian, Harimau Sumatera masih menghadapi berbagai ancaman, seperti perburuan liar, jerat satwa, kerusakan habitat, hingga konflik dengan manusia. Karena itu, Kemenhut akan terus memperkuat patroli, penegakan hukum, pemantauan ilmiah, dan pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan hutan.
Satyawan menegaskan, keberhasilan menjaga generasi baru Harimau Sumatera merupakan tanggung jawab bersama.
Kemenhut pun berkomitmen memperkuat kolaborasi lintas sektor agar satwa endemik Indonesia tersebut tetap lestari untuk generasi mendatang.(ZID)





