FACEINDONESIA.CO.ID-Program pemberdayaan zakat yang dijalankan Lembaga Amil Zakat (LAZ) dan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) terus menunjukkan dampak nyata dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Melalui berbagai program di bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, sosial, dan kemanusiaan, zakat tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi penerima manfaat.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Abu Rokhmad, mengatakan salah satu indikator keberhasilan pengelolaan zakat adalah lahirnya muzaki baru dari kalangan mustahik yang sebelumnya menerima bantuan.
“Sudah banyak contoh keberhasilan pemberdayaan yang mampu mengubah mustahik menjadi muzaki. Ini menunjukkan bahwa zakat tidak hanya bersifat bantuan sesaat, tetapi juga mampu menjadi instrumen pemberdayaan yang berkelanjutan,” ujar Abu Rokhmad dalam kegiatan Bimas Islam Talks dan Public Expose di Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Salah satu contoh transformasi tersebut terlihat di Kulon Progo. Seniyem dan Sriyani berhasil mengembangkan usaha angkringan yang sebelumnya dijalankan dengan gerobak sederhana. Setelah memperoleh bantuan modal usaha, keduanya memiliki tempat usaha yang lebih layak dan mampu meningkatkan omzet dari sekitar Rp1,5 juta menjadi Rp4 juta hingga Rp5 juta per bulan. Peningkatan pendapatan tersebut membantu memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus membuka peluang bagi mereka untuk bertransformasi dari mustahik menjadi muzaki.
Kisah serupa dialami Nurlela Hasanah, pelaku usaha kue terang bulan di Pasar Kuripan. Melalui Program KUA Pemberdayaan Ekonomi Umat yang digagas Kementerian Agama, Nurlela memperoleh bantuan usaha senilai Rp10 juta untuk membuat gerobak baru dan membuka usaha perlengkapan ibadah. Hasilnya, keuntungan usaha kue terang bulan meningkat empat kali lipat, dari sekitar Rp50 ribu menjadi Rp200 ribu per hari. Ia juga memperoleh tambahan pendapatan sekitar Rp500 ribu per bulan dari usaha perlengkapan ibadah.
Menurut Abu Rokhmad, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa zakat dapat menjadi instrumen strategis dalam mendukung pengentasan kemiskinan ekstrem. Berbagai program yang dijalankan LAZ dan BAZNAS telah memberikan kontribusi nyata di bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dakwah, hingga kemanusiaan.
Abu menjelaskan, penguatan program pemberdayaan zakat sejalan dengan kebijakan Menteri Agama, Nasaruddin Umar, yang mendorong pengembangan filantropi Islam sebagai instrumen peningkatan kesejahteraan umat. Dalam perspektif tersebut, zakat tidak hanya diposisikan sebagai bantuan sosial, tetapi juga sebagai sarana pemberdayaan yang mampu mempercepat pengurangan kemiskinan.
Salah satu program yang terus dikembangkan adalah Kampung Zakat. Program ini mengintegrasikan pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, dan pembinaan keagamaan melalui kolaborasi lintas sektor untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di wilayah yang membutuhkan perhatian khusus.
Selain itu, pengembangan Kota Wakaf juga terus didorong untuk mengoptimalkan pemanfaatan aset wakaf secara produktif guna mendukung pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
Di bidang pendidikan, dana zakat telah membantu ribuan pelajar dan mahasiswa dari keluarga kurang mampu melalui berbagai program beasiswa. Pada sektor ekonomi, lembaga zakat menjalankan program pemberdayaan usaha mikro dan kecil melalui bantuan modal usaha, pelatihan keterampilan, pendampingan bisnis, serta penguatan akses pasar.
Menurut Abu Rokhmad, berbagai capaian tersebut menunjukkan bahwa zakat memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada sekadar bantuan konsumtif. Jika dikelola secara profesional dan berkelanjutan, zakat dapat menjadi instrumen transformasi sosial yang mendorong kemandirian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ia juga menyoroti peran lembaga zakat dalam sektor kemanusiaan. Menurutnya, LAZ kerap menjadi pihak yang paling cepat merespons saat terjadi bencana karena memiliki fleksibilitas dan kesiapan sumber daya untuk menjangkau masyarakat terdampak.
Meski demikian, Abu Rokhmad menilai masih banyak kisah sukses pemberdayaan yang belum diketahui publik. Karena itu, ia mengajak media dan masyarakat untuk turut menyebarluaskan dampak positif pengelolaan zakat.
“Kerja-kerja LAZ perlu mendapat perhatian yang lebih besar. Banyak capaian yang telah memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan perlu diketahui publik agar semakin tumbuh kepercayaan terhadap pengelolaan zakat di Indonesia,” pungkasnya.(HER)





