FACEINDONESIA.CO.ID – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) terus memperkuat standardisasi biomassa guna mendukung keberhasilan program co-firing di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Upaya ini dilakukan melalui penguatan rantai pasok, peningkatan kualitas bahan bakar, serta pembangunan infrastruktur pengolahan biomassa yang andal.
Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, mengatakan keberhasilan co-firing tidak hanya ditentukan oleh besarnya potensi biomassa nasional, tetapi juga kesiapan ekosistem pendukung mulai dari pengolahan hingga distribusi.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum Material Handling Innovation for Wood-Based Industries: Engineering and Innovation for Sustainable Industrial Growth Symposium 2026 di Jakarta yang dihadiri pelaku industri, akademisi, dan lembaga riset.
Menurut Hokkop, PLN EPI bertugas menjamin pasokan energi primer bagi sekitar 200 unit PLTU di 52 lokasi, ratusan pembangkit berbahan bakar gas, serta hampir 800 PLTD di seluruh Indonesia.
Ia menjelaskan sekitar 90 persen pembangkit listrik nasional masih mengandalkan energi fosil. Karena itu, pemanfaatan biomassa sebagai pengganti sebagian batu bara menjadi langkah strategis untuk mendukung dekarbonisasi dan pencapaian target Net Zero Emissions (NZE).
Hokkop menegaskan seluruh biomassa yang digunakan berasal dari residu industri kehutanan, perkebunan, dan pertanian, sehingga tidak berasal dari aktivitas penebangan hutan. Selain mengurangi emisi, pemanfaatan residu tersebut juga menciptakan nilai tambah bagi sektor kehutanan dan perkebunan melalui konsep ekonomi sirkular.
Sepanjang 2025, PLN EPI memasok sekitar 2,35 juta ton biomassa yang mampu menekan emisi sekitar 2,72 juta ton CO₂e. Volume tersebut ditargetkan meningkat menjadi 3,65 juta ton pada 2026 dan 4,07 juta ton pada 2027 untuk mendukung implementasi co-firing di 52 PLTU.
Secara kumulatif selama 2023–2026, penyediaan biomassa telah mencapai 4,77 juta ton, didominasi sawdust dan woodchip berbasis kayu.
Untuk memperkuat rantai pasok, PLN EPI mengembangkan model Spoke–Hub yang mengintegrasikan pengumpulan bahan baku, pengolahan, penyimpanan, hingga pengendalian mutu biomassa. Sistem ini juga didukung Marketplace Biomassa yang menghubungkan pemasok dengan kebutuhan pembangkit.
Saat ini PLN EPI telah mengoperasikan fasilitas pengolahan biomassa di Tasikmalaya dan Ciamis dengan kapasitas masing-masing 10 ton per jam. Ke depan, perusahaan akan memperluas jaringan hub biomassa ke Lebak, Lamongan, Blora, Cilegon, dan Suralaya.
Hingga 2028, PLN EPI menargetkan pembangunan 15 hub biomassa melalui investasi perusahaan dan kolaborasi dengan mitra strategis. Infrastruktur tersebut diharapkan mampu menjaga kualitas serta kontinuitas pasokan biomassa sekaligus meningkatkan efisiensi logistik untuk mempercepat transisi energi nasional.(ZID)





