Kemendikdasmen Raih Popular Government Award 2026

FACEINDONESIA.CO.ID-Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) meraih Popular Government Institution Award 2026 pada ajang _7th Indonesia Public Relations Summit_ (IPRS) 2026 yang diselenggarakan The Iconomics di Jakarta, Kamis (6/8). Penghargaan tersebut diberikan sebagai apresiasi atas komunikasi publik Kemendikdasmen yang dinilai aktif, adaptif, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Setelah menerima penghargaan tersebut, Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengapresiasi penyelenggaraan _7th Indonesia Public Relations Summit_ memiliki peran strategis dalam mendorong komunikasi publik yang lebih berkualitas sehingga narasi di ruang publik mampu mencerminkan keadaban, empati, serta memperkuat persatuan bangsa.

Bacaan Lainnya

Dalam paparannya, Mendikdasmen mengatakan bahwa tantangan komunikasi publik saat ini bukan hanya menyampaikan informasi secara cepat, tetapi juga membangun pemahaman dan kepercayaan masyarakat. Di era _overwhelming information_, setiap orang dapat memproduksi dan menyebarkan informasi melalui berbagai platform digital. Karena itu, komunikator publik harus mampu membedakan antara _noise_ dan _voice_, yakni informasi yang sekadar menciptakan kegaduhan dan masukan yang benar-benar substantif bagi penyempurnaan kebijakan.

“Kita harus mampu membedakan antara _noise_ dan _voice_. Mana yang sekadar kegaduhan untuk menarik perhatian dan mana yang benar-benar menjadi suara substantif yang dapat menjadi masukan dalam pengambilan kebijakan,” jelasnya.

Mendikdasmen menambahkan bahwa maraknya misinformasi dan disinformasi menuntut komunikasi publik dibangun di atas akurasi, integritas, dan tanggung jawab. Ia juga mengingatkan bahwa komunikasi yang empatik harus menjunjung tinggi martabat setiap individu, bukan dibangun melalui eksploitasi kondisi seseorang. Budaya komunikasi yang santun merupakan bagian dari pembangunan karakter bangsa. Menurutnya, penggunaan ungkapan sederhana seperti “permisi”, “maaf”, dan “terima kasih” perlu terus dibiasakan, termasuk di lingkungan pendidikan.

“Bahasa menunjukkan bangsa, inilah yang coba terus kita bangun bagaimana (supaya masyarakat) mampu menggunakan bahasa-bahasa yang empatik, kemudian ekspresi-ekspresi ruang publik yang (diutamakan) menggambarkan kesantunan dan menggambarkan respek kepada orang lain. Itu harus kita bangun lebih luas,” ujarnya.

Selain kemampuan menyampaikan pesan (_how to deliver_), Mendikdasmen juga menilai kemampuan mendengarkan secara mendalam (_deep listening_) merupakan bagian penting dari komunikasi empatik. Ia berharap insan komunikasi, media, dan hubungan masyarakat terus menghadirkan narasi yang mencerahkan, memperkuat keadaban publik, serta membangun ruang digital yang sehat dan saling menghormati guna memperkuat kepercayaan masyarakat dan persatuan bangsa.

“Menjadi pembicara yang baik memang penting dan banyak diajarkan, tapi bagaimana menjadi pendengar yang baik, sabar mendengarkan setiap kata, memberikan respons terhadap setiap gestur, dan kemudian mengambil makna dari yang disampaikan itu tidak selalu mudah. Termasuk kemampuan berempati selain _how to deliver_ (yakni) bagaimana kita berbicara, (namun juga) _how to listen_, bagaimana mendengar (_deep listening_),” tuturnya.

_Founder_ dan _CEO The Iconomics_, Bram S. Putro, mengatakan bahwa _7th Indonesia Public Relations Summit_ tahun ini mengangkat tema “Komunikasi Empati, Narasi, dan Strategi” sebagai respons terhadap tantangan komunikasi di era keterbukaan informasi. Menurutnya, empati menjadi fondasi penting dalam membangun hubungan yang bermakna antara institusi dan publik.

“Komunikasi empati bukan sekadar teknik, melainkan filosofi interaksi. Di era transparansi yang semakin terbuka, empati menjadi modal utama untuk membangun kepercayaan publik, mengelola krisis, dan menciptakan hubungan yang bermakna. Karena itu, komunikasi harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar narasi,” ujar Bram.(ZID)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *