Batik Vermis Nusakambangan Tembus Pasar Dunia

Dok.Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas)

FACEINDONESIA.CO.ID – Transformasi di Nusakambangan terus menghadirkan cerita baru. Melalui program pembinaan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas), lembaga pemasyarakatan yang dulu identik dengan kesan tertutup kini berkembang menjadi pusat pembinaan dan produktivitas warga binaan.

Salah satu yang menarik perhatian datang dari Lapas Kelas IIA Permisan, Cilacap, Jawa Tengah. Dari tempat ini lahir Batik Vermis, karya batik hasil tangan warga binaan yang kini telah dikenal hingga mancanegara.

Di bengkel kerja batik Permisan, kain putih diolah menjadi berbagai produk bernilai seni seperti batik tulis, batik cap, syal hingga batik ecoprint. Program pembinaan ini dijalankan untuk membekali warga binaan dengan keterampilan yang dapat digunakan setelah bebas.

Saat berkunjung ke lokasi, suasana workshop terlihat jauh dari kesan penjara yang kaku. Sejumlah warga binaan tampak fokus menggambar motif, mencanting, mewarnai hingga menyelesaikan proses pelorotan.
Saat ini sekitar 30 warga binaan terlibat sebagai perajin Batik Vermis.

Menariknya, pembatik tidak hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga warga binaan asal luar negeri seperti Brasil, Pakistan, Iran, dan Nigeria.

Salah satunya Paulo (60), warga binaan asal Brasil yang telah empat tahun menekuni batik. Ia dipercaya menangani desain dan pewarnaan serta ikut memperkenalkan Batik Vermis kepada keluarga dan relasinya di negara asal.

Menurut Paulo, inspirasi motif banyak diperoleh dari eksplorasi budaya dan referensi visual yang dipadukan dengan corak Nusantara. Salah satu karya favoritnya menggabungkan ikon burung flamingo dengan ornamen batik Indonesia.

Kalapas Permisan Dedi Cahyadi mengatakan pembinaan batik dimulai sejak 2019 melalui proses asesmen minat dan kemampuan warga binaan.

Program tersebut juga memberikan premi kepada para pembuat sesuai tahapan produksi. Sistem ini menjadi motivasi sekaligus bekal ekonomi selama menjalani masa pembinaan.

Produk Batik Vermis kini telah menjangkau berbagai negara seperti Amerika Serikat, Australia, Jerman, Brasil, dan Iran melalui pameran, kunjungan resmi, media sosial, hingga platform digital.

Harga produk bervariasi, mulai dari puluhan ribu rupiah untuk syal hingga jutaan rupiah untuk batik tulis premium.

Selain batik, Lapas Permisan juga mengembangkan unit usaha lain seperti bakery, kerajinan kulit, peternakan, serta greenhouse. Program tersebut menjadi bagian dari upaya membangun keterampilan dan menyiapkan masa depan warga binaan setelah kembali ke masyarakat.(DEN)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *