FACEINDONESIA.CO.ID- Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menilai berbagai kebijakan pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mulai dirasakan masyarakat hingga pelosok negeri.
Hal itu disampaikan Fajar menyusul Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Menurutnya, kebijakan pemerintah mencakup pemenuhan gizi dan kesehatan anak, pemerataan akses pendidikan, revitalisasi sekolah, digitalisasi pembelajaran, hingga program bagi anak yang sempat putus sekolah.
“Presiden Prabowo Subianto menunjukkan pandangan yang utuh tentang pembangunan manusia. Anak-anak harus memperoleh gizi yang cukup, tumbuh sehat, belajar di sekolah yang layak, dan mendapatkan pendidikan bermutu,” ujar Fajar di Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Fajar mencontohkan Kristina Beno, siswi kelas VI sekolah dasar dari Merauke, Papua Selatan, yang telah merasakan manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam pidatonya, Presiden Prabowo juga menyemangati Kristina agar terus belajar dan suatu saat kembali sebagai pemimpin bangsa.
Menurut Fajar, pemerintah terus berupaya memastikan anak-anak Indonesia memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang, tanpa dibatasi kondisi geografis maupun latar belakang ekonomi.
Revitalisasi dan Digitalisasi Sekolah
Dalam pidato kenegaraan, Presiden Prabowo menyampaikan sebanyak 16.167 satuan pendidikan menerima bantuan revitalisasi pada 2025. Jumlah tersebut meningkat menjadi 71.774 satuan pendidikan pada 2026, termasuk sekolah di Miangas, salah satu pulau terluar Indonesia.
Pemerintah juga mempercepat digitalisasi pembelajaran melalui penyediaan Papan Interaktif Digital (PID). Jika pada 2025 setiap sekolah mendapat satu perangkat, pada 2026 jumlahnya ditingkatkan menjadi tiga perangkat per sekolah.
Fajar mengatakan revitalisasi dan digitalisasi sekolah merupakan bagian dari pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025. Revitalisasi membuat ruang belajar lebih aman dan nyaman, sedangkan PID membantu guru menyampaikan materi secara lebih visual dan interaktif.
Ia mengaku melihat langsung dampak program tersebut ketika mengunjungi sejumlah sekolah di berbagai daerah, mulai dari Bengkayang, Kalimantan Barat, Tarakan, Kalimantan Utara, hingga Mansinam, Papua Barat.
Di SD Inpres 10 Mansinam, misalnya, Fajar harus menggunakan speedboat dan berjalan kaki untuk mencapai sekolah yang berdiri sejak 1980 tersebut. Kini sekolah itu telah menerima PID sehingga pembelajaran digital dapat dinikmati siswa di Pulau Mansinam.
Fajar juga mengunjungi SD Maritim Mola dan SMP Maritim Mola di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, yang melayani anak-anak Suku Bajo. Pada Rabu (12/8), ia kemudian menyambangi Pulau Belakang Padang, Batam, Kepulauan Riau.
“Dari Mansinam hingga Wakatobi dan Pulau Belakang Padang di Kepulauan Riau, saya melihat semangat belajar anak-anak dan pengabdian guru yang luar biasa. Jarak geografis tidak boleh menjadi jarak kesempatan,” tegasnya.
Sekolah Nasional Terintegrasi
Pemerataan mutu pendidikan juga diperkuat melalui Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2026 tentang Program Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT).
Sebanyak 17 SNT mulai memberikan layanan pada tahun ajaran 2026/2027. Sekolah tersebut disiapkan sebagai pusat mutu yang diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi sekolah lain di sekitarnya.
Fajar meninjau kesiapan pembangunan SNT di Banyumas dan bertemu calon murid di Cianjur. Ia menegaskan SNT tidak ditujukan sebagai sekolah eksklusif, melainkan pusat pengembangan potensi akademik dan nonakademik sekaligus rujukan bagi sekolah di sekitarnya.
PJJ Buka Kesempatan Anak Kembali Sekolah
Pemerintah juga memperkuat Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) sebagai bagian dari pelaksanaan Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pencegahan dan Penanganan Anak Tidak Sekolah.
Program ini memberikan kesempatan kepada anak yang menghadapi hambatan geografis, sosial, maupun ekonomi untuk kembali mengikuti pendidikan formal.
Saat meninjau PJJ di SMAN 1 Bungo, Jambi, Fajar bertemu Renaldi Pratama, yang sebelumnya bekerja sebagai pencuci motor setelah lulus SMP. Melalui PJJ, Renaldi kini dapat kembali belajar tanpa harus meninggalkan pekerjaannya.
Di SMA Negeri 20 Batam, Fajar juga bertemu Syafira yang sempat berhenti sekolah karena kendala ekonomi dan membantu orang tuanya berjualan es cendol. Melalui PJJ, ia kembali mengikuti pendidikan formal dengan waktu belajar yang lebih fleksibel.
“PJJ membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi, sosial, dan geografis tidak harus mengakhiri pendidikan seorang anak,” kata Fajar.
Perluas Kesempatan Talenta Terbaik
Pemerintah juga telah menyelesaikan pembangunan empat SMA Unggul Garuda baru di Belitung Timur, Konawe Selatan, Bulungan, dan Timor Tengah Selatan.
Sementara itu, Sekolah Unggul Garuda Transformasi telah menjangkau 42 sekolah di 15 provinsi. Program tersebut diharapkan membuka peluang bagi talenta terbaik Indonesia untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi unggulan.
Fajar menegaskan seluruh kebijakan tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni memastikan tidak ada anak Indonesia yang tertinggal.
“Negara telah hadir agar anak-anak kita tumbuh sehat, belajar di ruang yang nyaman dan aman, memperoleh pendidikan bermutu, dan memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai cita-cita,” pungkasnya.
Menurut Fajar, berbagai kebijakan pendidikan tersebut mulai dirasakan masyarakat, bukan hanya di pusat kota, tetapi juga hingga wilayah terdepan dan pelosok Indonesia.(ZID)






