FACEINDONESIA.CO.ID- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat pendidikan Pancasila sebagai bagian penting dalam pembentukan karakter dan kepribadian peserta didik. Penguatan tidak hanya dilakukan melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui budaya sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, pembiasaan, dan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan, pendidikan Pancasila perlu dipahami secara utuh melalui tiga aspek, yakni pengetahuan mengenai Pancasila, pengamalan nilai-nilai Pancasila, serta internalisasi Pancasila sebagai kepribadian bangsa Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Abdul Mu’ti dalam Seminar Lokakarya Akademik bertema “Pancasila Sebagai Falsafah dan Dasar Negara: Penguatan Pendidikan Pancasila dalam Sistem Pendidikan Nasional” di Bandung, Jawa Barat, Selasa (29/9).
Menurut Abdul Mu’ti, pembelajaran Pancasila tidak boleh berhenti pada aspek pengetahuan. Karena itu, Kemendikdasmen mendorong penerapan pembelajaran mendalam atau deep learning serta optimalisasi hidden curriculum agar nilai-nilai Pancasila dapat diterapkan dalam berbagai aktivitas dan budaya sekolah.
“Kita ingin perkuat lagi hidden curriculum. Jadi, kami sekarang ada kebijakan deep learning, pembelajaran mendalam yang kita berusaha untuk bagaimana konteks dan implementasi dari mata pelajaran itu menjadi lebih kuat lagi,” ujar Abdul Mu’ti.
Melalui pendekatan tersebut, sekolah diharapkan menjadi ruang bagi peserta didik untuk mendapatkan pengalaman nyata dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila. Interaksi guru dan murid, hubungan antarpeserta didik, serta berbagai kegiatan sekolah menjadi bagian penting dalam membangun budaya yang mencerminkan kehidupan kebangsaan.
Penguatan karakter dan nasionalisme juga dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler dan pembiasaan. Pramuka menjadi salah satu sarana pendidikan karakter, sementara berbagai pilihan ekstrakurikuler memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan keterampilan di luar pembelajaran formal.
“Kami punya prinsip bahwa pilihan ekstrakurikuler itu perlu kita perbanyak bagi para murid. Mereka dapat memiliki keterampilan, memiliki kemampuan di luar mata pelajaran yang diajarkan di pelajaran formal,” katanya.
Kemendikdasmen juga memperkuat pelaksanaan upacara bendera dan kegiatan pada hari-hari besar nasional. Peserta didik diajak menghayati nilai-nilai kebangsaan melalui Ikrar Pelajar Indonesia yang mencakup keimanan dan ketakwaan, penghormatan kepada orang tua dan guru, kesungguhan belajar, kerukunan dengan teman, serta kecintaan terhadap tanah air.
Nilai-nilai Pancasila juga diharapkan tercermin dalam perilaku sehari-hari, seperti kepedulian terhadap lingkungan, penghormatan terhadap keberagaman, kemampuan hidup bersama, serta sikap yang mengutamakan persatuan.
“Sikap-sikap seperti ini akan bisa ditumbuhkan kalau murid memiliki banyak pengalaman dalam lembaga pendidikan yang banyak mengamalkan nilai-nilai Pancasila,” lanjut Abdul Mu’ti.
Dengan penguatan pembelajaran, budaya sekolah, keteladanan, pembiasaan, dan kegiatan kolaboratif, pendidikan Pancasila diharapkan semakin bermakna bagi peserta didik. Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen membentuk generasi Indonesia yang berkarakter, menghargai keberagaman, mencintai tanah air, dan siap berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
Kemendikdasmen optimistis integrasi pengetahuan dan nilai dalam pendidikan dapat menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bermakna. Dukungan guru, sekolah, keluarga, dan seluruh ekosistem pendidikan diperlukan agar nilai-nilai Pancasila tumbuh menjadi bagian dari kehidupan peserta didik serta menjadi bekal menyongsong masa depan Indonesia yang maju, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.(ZID)






