FACEINDONESIA.CO.ID – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Senin (12/1/2026). Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik global serta ketidakpastian kebijakan di AS menjadi faktor utama pelemahan mata uang Garuda.
Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa indeks dolar AS menguat seiring meningkatnya permintaan aset aman (safe haven) di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah dan dinamika politik di Washington.
Tekanan Eksternal Meningkat
Dari sisi global, pasar tengah mencermati meningkatnya gejolak di Iran. Laporan menyebutkan, kerusuhan akibat protes anti-pemerintah telah menewaskan lebih dari 500 orang. Situasi memanas setelah Teheran memperingatkan kemungkinan serangan terhadap pangkalan militer AS jika Presiden Donald Trump ikut campur mendukung para pengunjuk rasa.
“Kami mempertimbangkannya dengan sangat serius. Militer sedang mempertimbangkannya, dan kami sedang mempertimbangkan beberapa opsi yang sangat kuat,” ujar Presiden Donald Trump kepada wartawan pada Minggu.
Selain itu, ketidakpastian politik di AS juga turut mengguncang pasar keuangan global.
Departemen Kehakiman AS dikabarkan mengancam Federal Reserve dengan kemungkinan dakwaan pidana. Ketua The Fed, Jerome Powell, mengonfirmasi bahwa bank sentral AS telah menerima panggilan pengadilan dari dewan juri terkait kesaksiannya di Senat. Langkah tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap independensi bank sentral AS.
Dari sisi data ekonomi, laporan ketenagakerjaan AS juga turut memengaruhi sentimen. Pemerintah AS melaporkan pertambahan lapangan kerja non-pertanian hanya sebesar 50 ribu pada Desember 2025, lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 66 ribu. Meski tingkat pengangguran turun tipis menjadi 4,4 persen, data ini memperkuat sinyal melambatnya pasar tenaga kerja.
“Kondisi tersebut memicu spekulasi bahwa Federal Reserve berpeluang melonggarkan kebijakan moneter lebih lanjut sepanjang 2026,” ujar Ibrahim.
Faktor Domestik Masih Menopang
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melaporkan kinerja penjualan eceran yang menunjukkan perbaikan. Pada November 2025, penjualan eceran tumbuh 1,5 persen secara bulanan (month to month/MtM), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya 0,6 persen MtM.
Peningkatan tersebut tercermin dalam hasil Survei Penjualan Eceran (SPE), dengan mayoritas kelompok mencatatkan kenaikan penjualan.
Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi tumbuh 5,5 persen MtM, disusul Suku Cadang dan Aksesori 4,2 persen MtM, Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 2,8 persen, serta Makanan, Minuman, dan Tembakau 1,2 persen.
Secara tahunan (year on year/YoY), penjualan eceran tumbuh 6,3 persen pada November 2025, lebih tinggi dibandingkan Oktober 2025 yang sebesar 4,3 persen YoY. Pertumbuhan tertinggi tercatat pada kelompok Suku Cadang dan Aksesori sebesar 17,7 persen YoY, diikuti Makanan, Minuman, dan Tembakau 8,5 persen YoY, Barang Budaya dan Rekreasi 8,1 persen YoY, serta Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 0,8 persen YoY.
BI juga memproyeksikan kinerja penjualan eceran pada Desember 2025 akan tetap meningkat seiring momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru). Indeks Penjualan Riil (IPR) diprakirakan tumbuh 4,4 persen YoY, dengan pertumbuhan bulanan sekitar 4 persen.
Pergerakan Rupiah
Pada perdagangan sore ini, rupiah ditutup melemah 36 poin setelah sebelumnya sempat tertekan hingga 50 poin, berada di level Rp16.855 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.819 per dolar AS.
Untuk perdagangan Selasa (13/1/2026), Ibrahim memproyeksikan rupiah bergerak fluktuatif namun masih berpotensi ditutup melemah pada kisaran Rp16.850 hingga Rp16.890 per dolar AS. (San)





