FACEINDONESIA.CO.ID – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mendorong pengembangan Compressed Biomethane Gas (CBG) berbasis limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) sebagai solusi pengurangan emisi metana sekaligus penguatan ketahanan energi nasional.
Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir mengatakan Indonesia memiliki peluang besar memanfaatkan limbah sawit menjadi energi rendah karbon yang bernilai ekonomi dan mendukung target transisi energi nasional.
Menurut Hokkop, Indonesia memiliki sekitar 3.000 pabrik kelapa sawit dengan potensi limbah cair mencapai 130 juta meter kubik per tahun. Namun hingga kini, pemanfaatannya sebagai sumber energi domestik masih belum optimal.
“Potensinya besar karena sumber tersedia, teknologi sudah ada, dan pembiayaan juga memungkinkan. Yang dibutuhkan saat ini adalah skema bisnis yang tepat agar implementasi dapat berjalan lebih cepat,” ujar Hokkop dalam forum Climate Policy Initiative (CPI) di Jakarta.
PLN EPI memperkirakan emisi dari limbah sawit mencapai sekitar 20 juta ton CO2e per tahun. Melalui pemanfaatan POME menjadi CBG, sebagian besar emisi tersebut dinilai dapat ditekan sekaligus menghasilkan energi alternatif.
Pengembangan CBG juga diproyeksikan mendukung target bauran energi baru terbarukan (EBT) nasional sebesar 44–48 persen pada 2030 serta target Net Zero Emissions (NZE) 2060.
Untuk mempercepat implementasi, PLN EPI menyiapkan ekosistem biomethane terintegrasi mulai dari pengamanan bahan baku, pembangunan fasilitas produksi, hingga distribusi dan penciptaan pasar. Dalam skema ini, PLN EPI akan berperan sebagai agregator dan offtaker.
Salah satu proyek yang disiapkan adalah cofiring CBG di PLTGU Belawan. Implementasi tahap awal tersebut diperkirakan mampu menekan emisi hingga sekitar 500 ribu ton CO2e serta memanfaatkan infrastruktur pembangkit gas yang telah tersedia.
Secara nasional, PLN EPI menilai peluang pengembangan CBG sangat besar. Dari total kapasitas pembangkit berbasis gas sebesar 18,4 GW, kebutuhan CBG untuk skema cofiring 2,5 persen diperkirakan mencapai 60.000 MMBTUD dengan dukungan sekitar 200 pabrik kelapa sawit.
Selain manfaat lingkungan, setiap proyek CBG diperkirakan dapat menciptakan nilai ekonomi hingga Rp1,7 triliun dan mengurangi emisi sekitar 700 ribu ton CO2e.
PLN EPI menargetkan kapasitas produksi CBG meningkat bertahap hingga 2030 melalui pembangunan fasilitas baru untuk mendukung kebutuhan pembangkit dan program dedieselisasi nasional.
Bioenergi dinilai menjadi salah satu jembatan penting dalam mewujudkan transisi energi, memperkuat ketahanan energi, sekaligus menciptakan nilai tambah dari limbah yang sebelumnya menjadi sumber emisi.(DEN)






