FACEINDONESIA.CO.ID – Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6,7 persen sebagai bagian dari strategi jangka panjang menuju visi Indonesia Maju 2045. Angka tersebut dinilai penting untuk mendorong Indonesia naik kelas menjadi negara berpendapatan tinggi dan keluar dari jebakan middle-income trap.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional perlu dijaga di atas 5 persen agar proses transformasi struktural dapat berjalan konsisten dan berkelanjutan.
Di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian—mulai dari fluktuasi harga energi hingga gangguan rantai pasok—pemerintah tetap fokus menjalankan berbagai kebijakan ekonomi strategis sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Dari sisi domestik, konsumsi masyarakat masih menjadi penopang utama ekonomi Indonesia dengan kontribusi lebih dari separuh terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Oleh karena itu, pemerintah terus menjaga daya beli melalui program stimulus dan kebijakan yang responsif terhadap kondisi masyarakat.
Selain konsumsi, sektor energi dan pangan juga menjadi perhatian utama. Pemerintah mempercepat pengembangan energi alternatif, termasuk peningkatan pemanfaatan biodiesel berbasis campuran B50 guna memperkuat ketahanan energi nasional.
Sementara itu, di sektor pertanian, langkah efisiensi terus dilakukan untuk menjaga stabilitas produksi dan harga. Salah satunya melalui pengendalian biaya input seperti gas untuk industri pupuk, yang berdampak langsung pada produktivitas pangan nasional.
Indonesia juga menunjukkan kinerja positif dalam produksi pupuk, khususnya urea, dengan capaian surplus yang memungkinkan ekspor ke berbagai negara. Kondisi ini memperkuat posisi Indonesia dalam mendukung ketahanan pangan global.
Untuk jangka pendek, prospek ekonomi Indonesia tetap menunjukkan tren positif. Pertumbuhan pada kuartal pertama 2026 diperkirakan berada di kisaran 5,5 persen, didorong oleh peningkatan konsumsi selama periode hari besar keagamaan, penyaluran THR, serta percepatan belanja pemerintah.
Guna menjaga momentum tersebut, pemerintah telah menyiapkan berbagai stimulus lanjutan, termasuk pencairan gaji ke-13 bagi aparatur sipil negara (ASN) dan penguatan program perlindungan sosial.
Di sisi lain, investasi tetap menjadi pilar penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Pemerintah menargetkan realisasi investasi nasional menembus Rp2.000 triliun pada 2026 untuk memperkuat fondasi pembangunan jangka panjang.
Meski tekanan eksternal seperti geopolitik dan fluktuasi harga komoditas masih membayangi, fundamental ekonomi Indonesia dinilai cukup kuat untuk menjaga stabilitas dan kesinambungan pertumbuhan. (San)






