KAI Satukan Stasiun Karet dan BNI City

Dok.KAI

FACEINDONESIA.CO.ID – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI akan mengintegrasikan Stasiun Karet dengan Stasiun BNI City mulai 28 September 2026. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan, keselamatan, dan kemudahan mobilitas pelanggan KRL Jabodetabek.

Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, mengatakan integrasi tersebut merupakan bagian dari penataan layanan KRL melalui perbaikan alur penumpang, peningkatan keselamatan operasional, serta pembenahan akses di kawasan stasiun.

Bacaan Lainnya

“Integrasi Karet dan BNI City kami siapkan agar perjalanan pelanggan menjadi lebih aman dan nyaman,” ujar Bobby, Minggu (19/7).

Menurutnya, proses integrasi dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan aktivitas masyarakat di sekitar Stasiun Karet, mulai dari pejalan kaki, pengemudi ojek, pengantar-penjemput hingga pelaku usaha.

Dalam skema baru, area Stasiun Karet akan difungsikan sebagai concourse atau ruang penghubung menuju Stasiun BNI City. KAI juga akan membangun travelator berpendingin udara agar perpindahan penumpang lebih nyaman.

Seluruh aktivitas gate in dan gate out nantinya dipusatkan di Stasiun BNI City, sementara kawasan Karet tetap menjadi akses pendukung yang tertata.

Bobby menjelaskan, integrasi ini juga diperlukan karena jarak kedua stasiun sangat berdekatan sehingga memengaruhi pola operasi kereta. Penataan kawasan diharapkan dapat meningkatkan keselamatan pengguna dan kelancaran lalu lintas di sekitar stasiun.

Sepanjang Semester I 2026, Stasiun Karet mencatat 7.257.442 aktivitas gate in dan gate out, sedangkan Stasiun BNI City melayani 2.688.254 aktivitas. Total keduanya mencapai hampir 9,95 juta pergerakan penumpang.

Peran BNI City juga semakin strategis sebagai salah satu titik layanan Commuter Line Bandara Soekarno-Hatta. Pada Semester I 2026, layanan tersebut melayani 1.197.413 pelanggan atau meningkat 12,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

KAI memastikan akan menyiapkan masa transisi melalui sosialisasi, petunjuk arah, serta penempatan petugas agar pelanggan dapat beradaptasi dengan perubahan layanan.

Pengamat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai integrasi kedua stasiun merupakan langkah tepat karena berada di kawasan dengan mobilitas tinggi, yakni pusat perkantoran Sudirman dan kawasan perdagangan Tanah Abang.

Menurut Djoko, integrasi tersebut akan mempermudah perpindahan penumpang sekaligus memperkuat konektivitas dengan moda transportasi lain seperti MRT dan LRT, sehingga perjalanan masyarakat menjadi lebih efisien. (ZID)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *