FACEINDONESIA.CO.ID – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga meski masih dibayangi ketidakpastian geopolitik dan tekanan inflasi global. Ketahanan sektor keuangan didukung kinerja perbankan yang solid, likuiditas yang memadai, serta respons kebijakan yang tepat.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai mereda sehingga tekanan terhadap pasar energi global berkurang. Harga minyak juga kembali mendekati level sebelum konflik.
Meski demikian, Friderica mengingatkan risiko geopolitik masih perlu diwaspadai karena potensi eskalasi tetap terbuka dan dapat memengaruhi stabilitas ekonomi dunia.
Menurutnya, ekonomi global masih menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik dari perkiraan pasar, meski kinerjanya berbeda di setiap negara. Amerika Serikat masih ditopang pasar tenaga kerja yang kuat, sementara China menghadapi lemahnya konsumsi domestik dan investasi swasta. Di Eropa, aktivitas ekonomi mulai membaik meski permintaan masih terbatas.
Pada Juni 2026, OECD dan Bank Dunia merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi masing-masing 2,8 persen dan 2,5 persen. Prospek tersebut berpotensi kembali melemah jika konflik geopolitik meningkat atau gangguan pasokan energi berlanjut.
Di dalam negeri, sejumlah indikator ekonomi mengalami moderasi, seperti melemahnya PMI manufaktur, menyempitnya surplus perdagangan, dan turunnya cadangan devisa. Namun, stabilitas ekonomi tetap terjaga berkat sinergi kebijakan fiskal dan moneter.
“Stabilitas sektor keuangan tetap terjaga didukung meredanya tekanan eksternal dan respons kebijakan yang memadai,” ujar Friderica.
Di pasar modal, IHSG pada Juni 2026 ditutup di level 5.643,19 atau terkoreksi 7,90 persen secara bulanan dan 34,74 persen sejak awal tahun. Meski begitu, OJK menilai likuiditas dan ketahanan pasar modal nasional masih tetap terkendali.
Rata-rata nilai transaksi harian saham tercatat Rp22,23 triliun, sementara investor asing membukukan net sell sebesar Rp19,63 triliun seiring tingginya volatilitas pasar keuangan global.
Secara terpisah, Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menilai fondasi ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibandingkan saat menghadapi krisis sebelumnya.
Menurutnya, kondisi makroekonomi masih relatif positif meski sebagian masyarakat masih merasakan tekanan pada kondisi keuangan.
Josua menambahkan, kondisi tersebut lebih mencerminkan perubahan pola konsumsi masyarakat daripada penurunan daya beli secara menyeluruh.(BRA)






