FACEINDONESIA.CO.ID – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) nasional tetap terjaga meski tekanan terhadap perekonomian global meningkat akibat inflasi yang masih tinggi, ketidakpastian geopolitik, dan volatilitas pasar keuangan internasional.
Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK yang digelar pada 26 Mei 2026. OJK menilai sektor jasa keuangan Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang kuat, didukung pertumbuhan intermediasi keuangan yang positif serta tingkat solvabilitas lembaga keuangan yang tetap tinggi.
Konflik geopolitik di Timur Tengah yang masih berlangsung mendorong harga energi tetap tinggi dan meningkatkan tekanan inflasi global. Kondisi ini memperkuat ekspektasi suku bunga global yang bertahan tinggi dalam jangka waktu lebih lama (higher for longer), sehingga memicu kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara.
Di tengah tantangan tersebut, ekonomi global masih relatif resilien. Aktivitas manufaktur dunia tetap berada di zona ekspansi meski melambat.
Perekonomian Amerika Serikat masih ditopang pasar tenaga kerja yang kuat, sementara Tiongkok menghadapi perlambatan pertumbuhan akibat lemahnya permintaan domestik dan investasi.
Di dalam negeri, aktivitas ekonomi menunjukkan perkembangan yang beragam. Sektor manufaktur kembali ekspansif pada Mei 2026, sementara konsumsi domestik tetap terjaga. Inflasi meningkat seiring kenaikan harga energi global, namun masih berada pada level yang terkendali. Neraca perdagangan juga masih mencatatkan surplus meski menurun dibanding periode sebelumnya.
Di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Mei 2026 ditutup di level 6.127,38 atau terkoreksi 11,92 persen secara bulanan (month to month) dan turun 29,14 persen secara year to date (ytd). Meski demikian, likuiditas pasar tetap terjaga dengan rata-rata nilai transaksi harian meningkat menjadi Rp22,86 triliun.
Sementara itu, industri pengelolaan investasi masih menunjukkan kinerja yang stabil. Nilai Asset Under Management (AUM) mencapai Rp1.049,84 triliun dan jumlah investor pasar modal terus bertambah hingga mencapai 27,75 juta investor atau tumbuh 36,27 persen secara tahunan.
Pada sektor perbankan, kredit tumbuh 9,98 persen secara tahunan menjadi Rp8.755 triliun pada April 2026. Pertumbuhan tertinggi berasal dari Kredit Investasi yang naik 19,48 persen. Kredit korporasi tumbuh 15,51 persen, sementara kredit UMKM mulai menunjukkan perbaikan dengan pertumbuhan positif 0,16 persen.
Di sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 11,39 persen menjadi Rp10.077 triliun. Likuiditas perbankan tetap memadai dan rasio permodalan (CAR) berada di level 23,97 persen, mencerminkan ketahanan industri perbankan yang kuat.
Pada sektor asuransi, total aset industri mencapai Rp1.202,16 triliun atau tumbuh 3,39 persen secara tahunan. Sementara itu, industri dana pensiun mencatatkan aset sebesar Rp1.690,64 triliun atau meningkat 6,12 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Di sektor pembiayaan, piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan tumbuh 2,08 persen menjadi Rp514,65 triliun. Industri pinjaman daring (Pindar) juga masih tumbuh kuat dengan outstanding pembiayaan mencapai Rp102,07 triliun atau naik 26,11 persen secara tahunan.
OJK menegaskan akan terus menjaga stabilitas sistem keuangan melalui penguatan pengawasan, perlindungan konsumen, serta berbagai kebijakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tingginya ketidakpastian global. (ALA)





