FACEINDONESIA.CO.ID – Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), Hadi Ismoyo, menilai implementasi biodiesel B50 merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mempercepat transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan.
Menurut Hadi, Indonesia memiliki modal besar dalam pengembangan biodiesel karena merupakan produsen minyak kelapa sawit mentah (CPO) terbesar di dunia. Pemanfaatan B50 dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor solar sekaligus mengoptimalkan sumber daya dalam negeri.
“B50 menjadi langkah awal untuk memutus ketergantungan impor diesel dan mendukung transisi menuju energi terbarukan berbasis sumber daya lokal,” ujar Hadi, Sabtu (11/7).
Ia menjelaskan, manfaat B50 tidak hanya meningkatkan ketahanan energi, tetapi juga mendukung target net zero emission. Biodiesel menghasilkan emisi karbon sekitar 50-60 persen lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil, bahkan pada kondisi tertentu dapat mencapai pengurangan hingga 80 persen.
Meski demikian, Hadi mengingatkan implementasi B50 membutuhkan tata kelola yang kuat dari hulu hingga hilir. Pengembangan perkebunan sawit harus dilakukan secara berkelanjutan agar tidak memicu deforestasi.
Selain itu, industri pengolahan CPO perlu meningkatkan efisiensi, termasuk memanfaatkan limbah pabrik kelapa sawit menjadi biogas sebagai sumber energi operasional.
Hadi juga menyoroti pentingnya pembenahan sistem distribusi biodiesel mengingat luasnya wilayah Indonesia. Menurutnya, distribusi berbasis klaster perlu dikembangkan agar rantai pasok lebih efisien.
Di sisi lain, sosialisasi kepada masyarakat dan pelaku industri harus terus diperkuat. Riset mengenai performa mesin dan pengembangan zat aditif juga perlu dilakukan agar penggunaan B50 semakin optimal.
Dengan dukungan teknologi, tata kelola yang baik, dan edukasi yang berkelanjutan, Hadi optimistis B50 akan memberikan manfaat besar bagi ketahanan energi nasional, perekonomian, serta kelestarian lingkungan.(BRA)






