FACEINDONESIA.CO.ID- Olimpiade Sains Nasional (OSN) Jenjang Pendidikan Dasar Tingkat Nasional 2026 menjadi wadah bagi murid untuk mengembangkan talenta, mengasah nalar, serta membangun semangat berprestasi sejak dini.
Sebanyak 686 finalis dari 38 provinsi serta Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) di Arab Saudi, Malaysia, dan Singapura mengikuti rangkaian OSN yang berlangsung pada 25-31 Agustus 2026.
OSN Pendidikan Dasar 2026 mempertandingkan tiga cabang, yakni Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Tes dirancang untuk mengukur kemampuan murid secara komprehensif, mulai dari penguasaan konsep hingga kemampuan mengeksplorasi, mengobservasi, dan mempresentasikan gagasan.
Kepala Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kemendikdasmen, Maria Veronica Irene Herdjiono, menegaskan bahwa OSN bukan hanya tentang medali, peringkat, atau penghargaan. Menurutnya, kompetisi menjadi bagian dari proses belajar sekaligus pembentukan karakter murid.
“Prestasi kalian pada ajang OSN tahun 2026 ini bukan hanya tentang medali, peringkat dan penghargaan, melainkan tentang proses belajar, kerja keras, disiplin, kejujuran dan kemauan untuk terus berkembang,” ujar Irene saat menutup OSN Pendidikan Dasar Tingkat Nasional 2026 di Jakarta, Minggu (30/8).
Hal tersebut dirasakan Halimatun Sa’diah, murid SMP Negeri 6 Lhokseumawe, Aceh, yang meraih Medali Emas sekaligus The Best Theory OSN IPA. Menghadapi soal dengan tingkat kesulitan tinggi dan materi yang luas, Halimatun belajar mengatur waktu, menyusun jadwal belajar, serta memperkuat materi yang masih menjadi kelemahannya.
“OSN mengajarkan saya cara berpikir kritis, pantang menyerah, dan disiplin. Saya juga belajar menghargai proses. Menang kalah itu urusan nanti, yang penting sudah memberikan yang terbaik,” kata Halimatun.
Sementara itu, Michael Keii Shen, murid SD 1 YPK, Kalimantan Timur, berhasil meraih Medali Perak OSN IPS SD. Ia mengaku bangga dapat berkompetisi bersama murid berprestasi dari berbagai daerah di Indonesia.
“Saya sangat senang dan bangga karena bisa ikut berkompetisi di ajang olimpiade terbesar di Indonesia dan bersaing dengan anak-anak hebat dari seluruh negeri,” ujar Michael.
Menurut Michael, OSN juga mengasah kemampuan di luar penguasaan materi. Melalui tes eksplorasi, ia belajar membuat peta infografis serta menyampaikan gagasan melalui presentasi agar dapat dipahami dewan juri.
Penyelenggaraan OSN 2026 turut didukung pemerintah daerah, satuan pendidikan, kepala sekolah, guru, orang tua, pendamping, dewan juri, fasilitator, dan panitia. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pembinaan talenta yang berkelanjutan.
Berakhirnya OSN Pendidikan Dasar 2026 bukan menjadi akhir pembinaan talenta. Pengalaman selama seleksi dan kompetisi diharapkan menjadi bekal bagi murid untuk terus mengembangkan potensi, memperkuat nalar dan karakter, serta mempertahankan semangat berprestasi.(ZID)






