FACEINDONESIA.CO.ID- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mempercepat pemulihan layanan pendidikan pascagempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Berbagai langkah tanggap darurat dilakukan untuk memulihkan kegiatan belajar pada fase awal bencana.
Dalam dua minggu pertama, Kemendikdasmen melengkapi pendataan kebutuhan 306 sekolah, membuka akses ke 22 sekolah yang sebelumnya belum terjangkau, mendirikan ruang kelas darurat (RKD) di 10 sekolah prioritas, menyalurkan school kit dan family kit tahap pertama, serta memverifikasi 630 sekolah yang memiliki perbedaan kategori kerusakan.
Berdasarkan data per 23 Agustus 2026, sebanyak 1.918 satuan pendidikan di tujuh kabupaten dan 97 kecamatan terdampak gempa. Sebanyak 665 sekolah mengalami kerusakan berat, dengan 6.927 ruang kelas rusak berat. Dampaknya, 141.207 murid terhenti belajar dan 48.164 warga sekolah mengungsi.
Kebutuhan RKD yang diusulkan 785 sekolah mencapai 2.908 unit. Hingga Minggu (30/8), sebanyak 89 tenda telah terpasang, sementara sembilan tenda dalam proses pengiriman dari Pos Logistik Pendidikan Manggarai Timur dan dua tenda dikirim dari Pos Logistik Labuan Bajo.
Kerusakan paling banyak tercatat di Kabupaten Manggarai dengan 381 sekolah dan 1.887 ruang kelas rusak, disusul Nagekeo sebanyak 1.487 dan Manggarai Timur 1.200. Sebanyak 1.221 sekolah terpaksa meliburkan kegiatan belajar. Saat ini, 37 sekolah menjalankan pembelajaran darurat dan 295 sekolah melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Selain penyediaan ruang belajar darurat, Kemendikdasmen melibatkan perguruan tinggi untuk mendukung pemulihan psikososial murid. Salah satunya melalui Diponegoro Disaster Assistance Response Team (D-DART) Universitas Diponegoro yang memberikan pendampingan kepada korban gempa di Kabupaten Ngada dan SD Woe Natarandang, Bejawa.
Pada masa transisi pembelajaran selama dua minggu hingga tiga bulan mendatang, Kemendikdasmen juga akan melakukan perbaikan sanitasi dan asesmen teknis terhadap bangunan sekolah. Berdasarkan data Tim Sekretaris Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), kerusakan juga terjadi pada 418 laboratorium, 1.928 toilet, dan 370 rumah dinas guru.
Partisipasi berbagai pihak turut mendukung percepatan pemulihan. Yayasan Plan Indonesia, misalnya, memberikan terpal dan kebutuhan logistik, mendistribusikan 300 ribu liter air melalui water trucking di wilayah Lambaleda Utara, Manggarai Timur, serta memberikan layanan pemeriksaan kesehatan bagi para penyintas.
Untuk sektor pendidikan, Yayasan Plan Indonesia juga mulai membangun ruang belajar sementara di Nagekeo dan akan menggelar pelatihan pendidikan dalam situasi darurat.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, bencana tersebut mengingatkan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama. Menurutnya, partisipasi berbagai pihak harus diwujudkan melalui tindakan nyata untuk mempercepat pemulihan pendidikan di Flores.
“Partisipasi semesta bukan sekadar slogan, tetapi harus hadir dalam tindakan nyata. Ketika perguruan tinggi mengirimkan mahasiswa untuk pendampingan psikososial, organisasi kemanusiaan membantu memenuhi kebutuhan dasar, dan masyarakat ikut bergerak, kita sedang membangun kekuatan bersama untuk mempercepat pemulihan pendidikan di Flores,” ujar Abdul Mu’ti.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah bergerak bersama membantu pemulihan pendidikan bagi masyarakat terdampak gempa di Flores.(ZID)






