FACEINDONESIA.CO.ID- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperluas akses pendidikan bermutu melalui berbagai program prioritas, mulai dari Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) hingga model pendidikan fleksibel untuk anak yang mengalami putus sekolah.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, SNT merupakan bagian dari program prioritas Presiden Republik Indonesia untuk memberikan layanan pendidikan unggul bagi anak-anak Indonesia yang memiliki kemampuan dan bakat istimewa, baik akademik maupun olahraga, seni, serta bidang lainnya.
Pada tahun pertama, sebanyak 17 SNT mulai dibuka di sejumlah provinsi dan kabupaten. Untuk sementara, kegiatan belajar mengajar berlangsung di sekolah transit karena pembangunan sekolah permanen di lahan seluas 10 hingga 20 hektare masih berjalan dan ditargetkan dimulai pada akhir tahun ini.
“Penyelenggaraan dan proses belajar mengajar sudah mulai berlangsung. Hari Senin kemarin saya membuka MPLS di SNT 7 di Parung, Bogor, yang diikuti oleh seluruh SNT di Indonesia,” ujar Abdul Mu’ti.
Menurutnya, SNT hadir untuk mengisi ruang yang belum dapat disediakan sekolah standar sekaligus memperluas pemerataan sekolah bermutu. Ke depan, SNT diharapkan menjadi rujukan bagi sekolah lain dalam peningkatan mutu dan sistem pembelajaran.
Untuk mengatasi persoalan anak putus sekolah, Kemendikdasmen juga memperkuat layanan pendidikan yang mudah diakses, fleksibel, dan terjangkau melalui konsep broad-based education. Program tersebut tidak hanya mencakup pendidikan formal, tetapi juga pendidikan nonformal.
Sejumlah model pendidikan fleksibel telah dikembangkan, antara lain Pendidikan Jarak Jauh (PJJ), program kesetaraan Paket A, B, dan C, Sekolah Satu Atap, Sekolah Terbuka, serta Community Learning Center.
Sementara itu, revitalisasi sekolah pascabencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat disebut telah mencapai hampir 100 persen. Pemerintah mulai melakukan pembangunan sejak Februari lalu dengan total hampir 5.000 sekolah.
Sebagian sekolah masih terkendala relokasi lahan ke lokasi yang aman, termasuk persoalan pengadaan tanah serta keberatan orang tua dan murid karena lokasi baru dinilai terlalu jauh dari permukiman. Pemerintah menyediakan sekolah darurat sebagai solusi sementara.
Total dana yang telah digunakan atau disiapkan untuk penanganan tersebut mencapai lebih dari Rp2 triliun. Kemendikdasmen juga mengajukan Anggaran Biaya Tambahan (ABT) yang telah disetujui Kementerian Keuangan untuk membangun Unit Sekolah Baru (USB) bagi sekolah yang hilang atau direlokasi.
Abdul Mu’ti menegaskan, berbagai program tersebut menjadi bagian dari upaya Kemendikdasmen membangun fondasi pendidikan dasar yang kuat demi mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua.
“Pak Presiden menyampaikan ke saya tentang arti pentingnya pendidikan dasar ini. Karena sebagaimana kita membangun sebuah rumah, pendidikan dasar ini adalah fondasi untuk pendidikan yang selanjutnya,” tuturnya.
Dalam memperkuat fondasi pendidikan, Kemendikdasmen memiliki empat infrastruktur utama, yakni infrastruktur fisik melalui revitalisasi sarana dan digitalisasi pembelajaran; infrastruktur pedagogis melalui peningkatan kualifikasi, kompetensi, dan kesejahteraan guru serta penerapan pembelajaran mendalam (deep learning).
Selanjutnya, infrastruktur budaya dan karakter melalui 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, Program Pagi Ceria, Pramuka, Budaya ASRI, dan pembatasan gawai. Terakhir, infrastruktur hukum dan regulasi melalui Tes Kemampuan Akademik (TKA), penyederhanaan pengelolaan dana BOS, serta pelaksanaan upacara bendera yang dilengkapi pembacaan Ikrar Pelajar Indonesia.(ZID)






