Kementerian UMKM dan BEI Siapkan Usaha Menengah Melantai di Bursa

FACEINDONESIA.CO.ID- Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bersama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memperluas akses pembiayaan bagi usaha menengah melalui pasar modal. Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) sekaligus peluncuran program Go Public Academy for Small and Medium Enterprises (SMEs) di Jakarta, Senin (2/11/2026).

Kerja sama ini menjadi langkah strategis untuk mempersiapkan perusahaan UMKM, khususnya usaha menengah, agar mampu mengakses sumber pendanaan alternatif melalui pasar modal. Program tersebut juga bertujuan meningkatkan profesionalisme, kualitas tata kelola, serta daya saing perusahaan agar siap berkembang menjadi perusahaan terbuka.

Bacaan Lainnya

Sekretaris Kementerian UMKM Loto Srinaita Ginting mengatakan, usaha menengah memiliki peran penting sebagai penghubung antara ekonomi rakyat dan industri berskala besar. Karena itu, diperlukan semakin banyak perusahaan nasional yang mampu tumbuh lebih besar, produktif, dan kompetitif.

Menurut Loto, tantangan pembiayaan UMKM bukan hanya menyangkut penyaluran kredit, tetapi juga bagaimana perusahaan memperoleh struktur pendanaan yang tepat untuk mendukung ekspansi bisnis secara berkelanjutan.

Pasar modal dapat menjadi alternatif pembiayaan selain perbankan bagi perusahaan yang telah memenuhi persyaratan dan memiliki kesiapan untuk berkembang dalam jangka panjang.

Namun, kesiapan memasuki pasar modal harus didukung peningkatan kualitas perusahaan, mulai dari transparansi laporan keuangan, kepastian legalitas, profesionalisme manajemen, hingga penerapan tata kelola dan pengelolaan risiko yang baik.

“Hal tersebut menjadi faktor penting untuk membangun kepercayaan investor terhadap prospek dan keberlanjutan usaha,” ujar Loto.

Melalui Go Public Academy for SMEs, Kementerian UMKM dan BEI menghadirkan pembinaan untuk membantu perusahaan bertransformasi dari pengelolaan usaha yang bergantung pada pemilik menjadi organisasi yang lebih profesional, transparan, dan memiliki strategi pertumbuhan jangka panjang.

Program ini merupakan kelanjutan kolaborasi kedua pihak melalui RISE TO IPO yang dimulai pada 9 Juli 2025. Sepanjang 2025–2026, program tersebut telah menjangkau 281 perusahaan di lima kota.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 23 perusahaan terpilih pada 2025 untuk mengikuti pendampingan lanjutan melalui Intensive Coaching Clinic pada 4 Februari 2026. Pendampingan tersebut difokuskan pada peningkatan kualitas tata kelola, strategi bisnis, dan kesiapan perusahaan menjadi perusahaan terbuka.

Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM Bagus Rachman mengatakan, kerja sama ini diharapkan membuat proses identifikasi, pembinaan, dan pendampingan perusahaan potensial semakin terarah serta terintegrasi dengan ekosistem pasar modal Indonesia.

Bagus menjelaskan, tindak lanjut program akan difokuskan pada identifikasi dan asesmen kesiapan peserta, disertai koordinasi berkelanjutan dengan BEI dan mitra strategis lainnya.

Sementara itu, Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyampaikan, National Go Public Academy for SMEs menghadirkan pembinaan secara berjenjang. Materinya mencakup penguatan fundamental bisnis, tata kelola, kualitas dan transparansi perusahaan, hingga pemahaman proses penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO).

Peserta juga akan dibekali pemahaman mengenai tanggung jawab setelah menjadi perusahaan publik.

Jeffrey berharap program ini dapat membantu perusahaan membangun model bisnis yang tangguh, laporan keuangan yang andal, tata kelola profesional, serta strategi pertumbuhan berkelanjutan.

Melalui sinergi Kementerian UMKM dan BEI, semakin banyak usaha menengah Indonesia diharapkan mampu naik kelas, memperoleh akses pendanaan pasar modal, dan berkembang menjadi perusahaan yang tangguh serta berdaya saing global.(ZID)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *