FACEINDONESIA.CO.ID- Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mempercepat pemulihan usaha masyarakat terdampak bencana di Aceh dan Sumatera Utara (Sumut). Sebanyak 1.079 wirausaha mendapat dukungan melalui program peningkatan kapasitas produksi, perluasan akses pasar, dan kemudahan pembiayaan untuk menggerakkan kembali perekonomian daerah.
Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM, Riza Damanik, mengatakan program ini merupakan komitmen pemerintah untuk memulihkan penghidupan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi daerah, sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 18 Tahun 2025 dan Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 2026.
“Pemulihan UMKM pascabencana bukan hanya tentang menghidupkan kembali usaha yang terhenti, tetapi juga mengembalikan sumber penghidupan masyarakat, membuka kembali peluang usaha, dan memperkuat ketahanan ekonomi daerah,” ujar Riza di Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Program tersebut dilaksanakan di Medan, Sumatera Utara, pada 23 Oktober 2026 dengan melibatkan 607 wirausaha dari delapan kabupaten/kota. Selanjutnya, kegiatan serupa digelar di Meulaboh, Aceh, pada 26 Oktober 2026, dengan menjangkau 472 wirausaha dari lima kabupaten/kota.
Riza menjelaskan, bencana yang melanda sejumlah wilayah Sumatera pada akhir 2025 berdampak terhadap keberlangsungan usaha masyarakat. Kerusakan sarana produksi, kehilangan aset produktif, gangguan rantai pasok, serta terbatasnya akses pasar dan pembiayaan menjadi tantangan yang harus segera diatasi.
Untuk itu, Kementerian UMKM menjalankan tiga intervensi utama, yakni penguatan kapasitas produksi, perluasan pemasaran, dan fasilitasi pembiayaan agar pelaku usaha dapat kembali beroperasi sekaligus meningkatkan daya saing.
Di Sumatera Utara, program bertema “Bangkitkan Usaha, Perkuat Produk, Perluas Pembiayaan” diikuti 607 wirausaha. Rinciannya, 200 peserta mengikuti program peningkatan kapasitas produksi, 169 peserta mendapatkan fasilitasi perluasan akses pasar, dan 238 peserta mengikuti program kemudahan pembiayaan.
Sementara di Aceh, sebanyak 472 wirausaha terlibat, terdiri atas 158 peserta peningkatan kapasitas produksi, 134 peserta perluasan akses pasar, dan 180 peserta fasilitasi pembiayaan.
Peserta mendapatkan pembekalan mengenai pemulihan kapasitas produksi, efisiensi usaha, peningkatan kualitas produk, serta penerapan standar mutu dengan memanfaatkan sumber daya lokal.
Dalam aspek pemasaran, pelaku usaha dibekali strategi penguatan merek, pemanfaatan platform digital, pengembangan kemitraan, serta peluang transaksi melalui Katalog Elektronik dan PaDi UMKM.
Adapun dukungan pembiayaan difokuskan pada peningkatan literasi keuangan, kesiapan administrasi, pengelolaan arus kas, serta kemampuan mengakses pembiayaan dari lembaga jasa keuangan.
Kementerian UMKM menargetkan peningkatan pengetahuan seluruh peserta. Selain itu, sedikitnya 30 persen peserta diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi dan mengakses pembiayaan untuk menjaga keberlanjutan usaha.
“Program ini tidak boleh berhenti pada pelatihan semata. Kami ingin ada hasil nyata yang dapat diukur, baik dari peningkatan kemampuan produksi maupun akses pembiayaan, sehingga wirausaha terdampak dapat kembali tumbuh dan berkembang,” tegas Riza.
Pelaksanaan program melibatkan pemerintah daerah, lembaga inkubator bisnis, platform digital, dan lembaga keuangan, termasuk Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Syariah Indonesia (BSI), Bank Aceh, Bank Sumut, serta Bank Mandiri.
Kolaborasi dengan perguruan tinggi, di antaranya Universitas Sumatera Utara dan Universitas Teuku Umar, juga dilakukan untuk memperkuat pendampingan dan memastikan keberlanjutan usaha setelah bencana.
Program pemulihan ini menjadi bagian dari ekosistem pemberdayaan Kementerian UMKM melalui PRO-KESRA Produktif, yang berfokus pada peningkatan kapasitas, produktivitas, dan keberlanjutan usaha masyarakat. Dukungan SAPA UMKM turut memperkuat layanan informasi, pendampingan, pengembangan usaha, akses pasar, dan pembiayaan secara terintegrasi.
Riza menegaskan, sinergi lintas pemangku kepentingan dan pendampingan berkelanjutan menjadi kunci agar pemulihan UMKM tidak sekadar mengembalikan aktivitas usaha, tetapi juga membangun fondasi kewirausahaan daerah yang lebih tangguh.
“Target kami bukan sekadar membuat UMKM kembali beroperasi, tetapi mendorong mereka bangkit lebih kuat, lebih produktif, dan mampu berkembang secara berkelanjutan. Ketika UMKM kembali tumbuh, roda perekonomian daerah juga akan bergerak dan kesejahteraan masyarakat dapat kembali meningkat,” pungkas Riza.(ZID)






