FACEINDONESIA.CO.ID – Pemerintah terus berkomitmen untuk membangun pendidikan dan kesehatan remaja, guna menyongsong generasi emas 2045. Guna mendorong hal itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melakukan penandatanganan nota kesepahaman tentang tugas dan fungsi di bidang Pembangunan Keluarga dan Pendidikan Dasar dan Menengah, di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta, Selasa (28/7).
Nota kesepahaman ini merupakan langkah strategis untuk menciptakan generasi muda masa depan Indonesia. Melalui kolaborasi ini diharapkan dapat menjawab tantangan yang dihadapi oleh remaja saat ini di antaranya kesehatan mental, paparan konten negatif, ketidakpastian masa depan, dan lemahnya peranan keluarga.
Langkah tersebut disambut positif oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, menurutnya hal ini selaras dengan upaya Kemendikdasmen dalam membentuk generasi yang hebat dan tangguh melalui pendidikan remaja dan bimbingan remaja.
“Karena kita semuanya memiliki visi yang sama bahwa masa depan Indonesia ini tergantung dari generasi mudanya, terutama yang sekarang ini sebagai generasi Z dan generasi Alpha ya. Mereka yang masih belajar di bangku pendidikan,” ujar Abdul Mu’ti.
Mendikdasmen juga menambahkan bahwa melalui sinergi ini, diharapkan terbentuk ekosistem pendidikan yang tidak hanya fokus pada aspek akademik, tetapi juga menyentuh penguatan karakter dan kesehatan mental siswa di seluruh jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) Wihaji, memaparkan, sebanyak 34,9 persen remaja mengalami masalah kesehatan mental, di mana 50,2 persen di antaranya telah mengarah pada gangguan kesehatan jiwa. Ia menegaskan bahwa perbaikan negara harus dimulai dari fondasi terkecil yaitu keluarga.
“Unit terendah di sebuah negara namanya keluarga, jadi kalau mau memperbaiki negara, ayo perbaiki dari yang paling rendah namanya keluarga. Kalau keluarganya baik-baik saja negara akan baik-baik saja apa pun problemnya,” tegas Wihaji. (ZID)





