Holding Ultra Mikro Bantu Leni Bangkit dari Danau Sipin

FACEINDONESIA.CO.ID- Kisah Leni, mantan atlet nasional dayung sekaligus Ketua Bank Sampah Dayung Habibah di Danau Sipin, Jambi, menjadi gambaran bagaimana pembiayaan dan pemberdayaan usaha mikro dapat membuka kembali harapan.

Leni mengenal Danau Sipin sejak kecil. Dari tempat itu, ia mengawali perjalanan sebagai atlet setelah menjadi juara dalam ajang pencarian bakat atlet muda Jambi. Prestasinya kemudian membawanya ke Jakarta untuk mengikuti pemusatan latihan menuju berbagai kejuaraan, termasuk tingkat Asia, dunia, dan SEA Games.

Bacaan Lainnya

Namun, perjalanan tersebut menghadapi ujian berat pada 2010 ketika anaknya mengalami kondisi kulit langka yang mudah terluka akibat paparan sinar matahari. Demi membiayai pengobatan, Leni terpaksa menjual medali-medali yang telah diperolehnya selama bertahun-tahun.

Leni kemudian mendapat tawaran dari Menpora untuk menjadi pelatih dayung di Jambi. Ia pun kembali ke Danau Sipin yang ketika itu dipenuhi tumpukan sampah. Kondisi tersebut mendorongnya mendirikan Dayung Habibah, yang menggabungkan kecintaannya terhadap dayung dengan nama anaknya, Habibah.

Awalnya, usaha Leni mengumpulkan dan mengolah sampah mendapat penolakan dari sebagian warga. Bahkan, keterlibatan anak-anak dalam kegiatan tersebut sempat dipertanyakan. Di tengah kondisi itu, titik balik datang pada 2018 ketika Leni mengenal program pembiayaan dan pemberdayaan Mekaar dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM).

Melalui pembiayaan ultra mikro tanpa agunan, Leni memperoleh modal awal Rp2,5 juta. Modal tersebut kemudian berkembang hingga Rp10 juta dan mendukung usaha pengolahan sampah yang kini mempekerjakan empat karyawan tetap.

Dampaknya tidak hanya dirasakan Leni. Sebanyak 15 perempuan yang awalnya bergabung dan mengikuti pembekalan sebelum pencairan pembiayaan kemudian ikut menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitar Danau Sipin.

Perjalanan Leni juga berkembang ke layanan lain dalam ekosistem Holding Ultra Mikro. Ia kini memperoleh tambahan pemasukan sebagai agen BRILink Mekaar. Selain itu, Leni mulai menabung emas melalui Tabungan Emas Pegadaian untuk mempersiapkan masa depan keluarganya.

Kerja keras Leni akhirnya mendapat pengakuan, termasuk melalui penghargaan Kalpataru. Namun, bagi Leni, keberhasilan terbesar bukanlah penghargaan, melainkan melihat Danau Sipin kembali hidup dan anak-anak memiliki masa depan yang lebih baik.

Kisah Leni menjadi bagian dari perjalanan lima tahun Holding Ultra Mikro, yang lahir dari sinergi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Pegadaian (Persero), dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero). Holding tersebut dibentuk untuk memperluas akses pembiayaan dan pemberdayaan bagi masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro.

Group CEO BRI Hery Gunardi mengatakan, lima tahun pertama Holding Ultra Mikro menjadi fondasi untuk memasuki fase pertumbuhan berikutnya. Fokusnya adalah memastikan semakin banyak masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi dari integrasi BRI, Pegadaian, dan PNM.

Menurut Hery, Holding Ultra Mikro tidak hanya diarahkan menjadi ekosistem keuangan berskala besar, tetapi juga membuka jalan bagi masyarakat dari akses keuangan menuju pemberdayaan dan kesejahteraan.

Sementara itu, Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (Persero), Kindaris, menilai perjalanan Leni menunjukkan bahwa pemberdayaan tidak semata-mata diukur dari besarnya modal, tetapi dari kemampuan pendampingan dalam membantu seseorang kembali bangkit.

Kisah Leni membuktikan bahwa modal kecil yang disertai pendampingan dapat memberikan dampak besar. Dari Danau Sipin, perjuangannya tidak hanya menghidupkan usaha dan lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *