FACEINDONESIA.CO.ID- PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) memperkuat strategi hilirisasi dengan membidik pengembangan produk aluminium bernilai tambah tinggi untuk mendukung industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV), baterai, semikonduktor, hingga teknologi pertahanan.
Langkah ini dilakukan untuk memperluas pemanfaatan aluminium nasional, tidak hanya sebagai produk primer, tetapi juga sebagai material berteknologi tinggi yang dibutuhkan industri masa depan.
Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial Inalum, Arif Haendra, mengatakan pengembangan industri aluminium perlu diarahkan pada produk dengan spesifikasi khusus sesuai kebutuhan industri modern.
Menurut Arif, aluminium memiliki potensi besar untuk mendukung produksi baterai dan berbagai komponen kendaraan listrik. Bahkan, kandungan aluminium dalam baterai dan komponen pendukung kendaraan listrik menjadi peluang bagi industri dalam negeri untuk memperluas pasar.
“Di dalam baterai mobil itu masih mengandung 40 persen aluminium. Meskipun disebut litium atau nikel, ada aluminiumnya, termasuk pada braket dan titik-titik tertentu,” ujar Arif dalam media gathering Inalum di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Ia menjelaskan, hilirisasi aluminium tidak cukup hanya melalui pengolahan bauksit menjadi alumina, kemudian aluminium. Proses tersebut perlu dilanjutkan hingga menghasilkan material dengan nilai tambah dan spesifikasi teknis yang lebih tinggi.
Saat ini, Inalum telah mengembangkan sejumlah seri aluminium untuk kebutuhan otomotif, bahan bangunan, dan penggunaan umum. Perusahaan juga mengembangkan paduan aluminium khusus untuk menjangkau pasar industri yang lebih kompleks.
Salah satu pengembangan tersebut mencakup aluminium seri 2 dan seri 7 yang berpotensi dimanfaatkan sebagai material pesawat terbang. Pengembangan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kemampuan produksi material dengan karakteristik sesuai kebutuhan industri berteknologi tinggi.
Arif menambahkan, Inalum juga didorong mengembangkan advanced materials atau material maju untuk mendukung teknologi pertahanan, kendaraan listrik, baterai EV, dan semikonduktor.
“Sekarang kita diminta untuk lebih berkembang ke arah advanced materials. Itu untuk teknologi pertahanan, teknologi EV, baterai EV, kemudian teknologi semacam semikonduktor dan sebagainya,” katanya.
Namun, pengembangan produk hilir membutuhkan investasi, riset, serta kepastian pasar. Material dengan spesifikasi khusus memiliki tingkat kompleksitas teknis lebih tinggi dan menyasar pasar yang lebih spesifik dibandingkan aluminium standar.
Karena itu, penguatan riset dan penguasaan teknologi menjadi faktor penting agar produk aluminium nasional mampu memenuhi kebutuhan industri modern.
Melalui strategi tersebut, Inalum berupaya memperluas rantai nilai industri aluminium Indonesia. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing industri nasional, memperbesar nilai tambah sumber daya mineral di dalam negeri, serta mengurangi ketergantungan terhadap impor material berteknologi tinggi.(ZID)






