Aluminium Hijau Inalum Dilirik Pasar Global

FACEINDONESIA.CO.ID- PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) memperkuat strategi ekspor aluminium rendah emisi untuk menembus pasar premium global. Produk aluminium bersertifikat hijau ini mendapat respons positif dari konsumen internasional, terutama di Eropa, Jepang, dan Korea Selatan yang semakin membutuhkan bahan baku ramah lingkungan.

Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial Inalum, Arif Haendra, mengatakan intensitas emisi karbon produk aluminium perusahaan saat ini berada di kisaran 2,99 ton karbon dioksida (CO2) per ton aluminium. Angka tersebut masih berada di bawah ambang empat ton CO2 per ton aluminium untuk kategori produk yang disertifikasi hijau.

Bacaan Lainnya

Menurut Arif, tingkat emisi tersebut turut dipengaruhi penggunaan sebagian pasokan listrik dari PLN ketika produksi listrik tenaga air yang bersumber dari Danau Toba mengalami penurunan akibat berkurangnya muka air.

“Green certificate ini menunjukkan bahwa emisi Inalum itu green, di bawah empat ton CO2 per ton aluminium,” ujar Arif dalam media gathering Inalum di Jakarta, Selasa (27/10/2026).

Ia menjelaskan, sertifikasi hijau menjadi nilai tambah bagi pelanggan industri karena membantu mereka menekan jejak karbon dalam proses produksi. Keunggulan tersebut juga membuka peluang bagi aluminium Inalum untuk memperoleh harga premium di pasar ekspor.

Selain rendah emisi, Inalum mengandalkan kepastian pasokan dan ketepatan pengiriman untuk meningkatkan daya saing. Salah satu contohnya adalah perusahaan manufaktur komponen otomotif di Pasuruan yang menggunakan aluminium Inalum untuk memproduksi velg kendaraan yang dipasarkan ke berbagai negara.

Sebelumnya, perusahaan tersebut masih mengimpor sebagian kebutuhan aluminium. Namun, setelah Inalum mampu menyediakan produk bersertifikat hijau sekaligus menjamin ketersediaan barang tepat waktu, perusahaan itu beralih menggunakan produk dalam negeri.

Arif mengatakan, Inalum juga memperoleh komitmen ekspor sebesar 6.000 ton setelah berpartisipasi dalam London Metal Exchange (LME) Week. Capaian ini menjadi peluang untuk memperluas penetrasi aluminium Indonesia di pasar internasional.

Meski demikian, Inalum masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan penyerapan produk di pasar domestik. Perbedaan perlakuan pajak antara aluminium produksi dalam negeri dan produk impor dinilai turut memengaruhi daya saing harga.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Inalum terus mengedukasi pasar mengenai manfaat aluminium rendah emisi serta meningkatkan kualitas layanan kepada pelanggan industri.

Ke depan, perusahaan juga berencana memperluas hilirisasi aluminium ke produk bernilai tambah tinggi, termasuk material untuk kendaraan listrik (EV), semikonduktor, dan teknologi pertahanan. Langkah ini diharapkan memperkuat daya saing industri aluminium nasional sekaligus meningkatkan peran Indonesia dalam rantai pasok global.(ZID)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *