BI Masih Punya Ruang Tahan Suku Bunga di Tengah Kenaikan The Fed dan BOJ

FACEINDONESIA.CO.ID-Bank Indonesia (BI) dinilai masih memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga acuannya di tengah kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) dan Bank of Japan (BOJ).

The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75-4 persen dalam pertemuan pada Rabu (16/9/2026). Kenaikan tersebut merupakan yang pertama sejak Juli 2023.

Bacaan Lainnya

Kebijakan The Fed turut memengaruhi pasar keuangan global. Dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap sejumlah mata uang Asia, termasuk rupiah. Pada perdagangan Kamis (17/9/2026), dolar AS berada di level Rp17.753 atau menguat 0,32 persen terhadap rupiah.

Di Jepang, BOJ pada Jumat (18/9/2026) menaikkan suku bunga acuan 25 bps menjadi 1,25 persen. Level ini merupakan yang tertinggi dalam 31 tahun atau sejak 1995.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, dampak kebijakan The Fed terhadap Indonesia masih lebih besar dibandingkan BOJ. Pasalnya, dolar AS merupakan mata uang utama dalam perdagangan, pembiayaan, cadangan devisa dan penilaian aset global.

Menurut Josua, kenaikan suku bunga AS dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar dan menjaga imbal hasil obligasi pemerintah AS tetap tinggi. Kondisi ini berpotensi membuat investor meminta imbal hasil lebih besar saat menempatkan dana di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Sementara itu, kenaikan suku bunga BOJ dapat memengaruhi alokasi portofolio global. Selama bertahun-tahun, suku bunga Jepang yang rendah menjadikan yen sebagai salah satu sumber pendanaan murah bagi investor global.

“Jadi, dampak BOJ terhadap Indonesia lebih banyak melalui perubahan alokasi portofolio global dan kenaikan biaya pendanaan, bukan hubungan perdagangan langsung semata,” ujar Josua, Jumat (18/9/2026).

Meski demikian, Josua menilai kenaikan suku bunga The Fed dan BOJ tidak serta-merta memberikan tekanan tajam terhadap rupiah karena langkah tersebut telah cukup diantisipasi pasar.

Ia menyebut Indonesia masih memiliki sejumlah bantalan untuk menghadapi tekanan eksternal. Cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 tercatat 146,5 miliar dolar AS, sedangkan inflasi Agustus berada di 3,19 persen.

Namun, risiko tetap perlu diperhatikan. Defisit transaksi berjalan pada kuartal II 2026 meningkat menjadi sekitar 3,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Terkait kebijakan BI, Josua mengatakan perubahan arah kebijakan The Fed dan BOJ memang mempersempit ruang pelonggaran BI. Namun, BI tidak harus mengikuti setiap kenaikan suku bunga bank sentral negara lain.

Keputusan BI tetap perlu mempertimbangkan kondisi rupiah, inflasi, arus modal, permintaan domestik dan stabilitas sistem keuangan. Josua menyebut BI sebelumnya telah menaikkan BI-Rate secara kumulatif 100 bps pada Mei-Juni 2026. Dengan BI-Rate saat ini sebesar 5,75 persen, BI dinilai masih memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga sambil mencermati perkembangan global.

“Prioritas pertama BI menurut saya tetap stabilitas rupiah dan ekspektasi inflasi, bukan buru-buru menaikkan suku bunga hanya karena bank sentral lain menaikkan bunga,” tegasnya.

BI juga masih memiliki sejumlah instrumen untuk menjaga stabilitas rupiah dan pasar keuangan, seperti intervensi valuta asing, pengelolaan suku bunga pasar uang, instrumen moneter, pengaturan likuiditas serta insentif untuk menarik dan mempertahankan aliran valuta asing.

Jika tekanan terhadap rupiah hanya sementara, arus modal tetap terkendali dan inflasi tidak meningkat signifikan, BI masih dapat mempertahankan suku bunga dengan menggunakan instrumen stabilisasi.

Namun, apabila pelemahan rupiah berlanjut, arus keluar modal meluas, premi risiko Surat Berharga Negara (SBN) meningkat dan tekanan nilai tukar mulai memengaruhi harga barang domestik, kenaikan BI-Rate dapat semakin dipertimbangkan.

Ekonom Senior UOB Enrico Tanuwidjaja juga menilai dampak kenaikan suku bunga The Fed terhadap Indonesia relatif terbatas karena telah diantisipasi pasar.

“Karena sudah cukup diantisipasi maka dampaknya minimal,” ujar Enrico.

Menurutnya, BI telah mengambil langkah secara pre-emptive dengan menaikkan suku bunga acuan lebih dahulu. Hal tersebut memberikan ruang bagi BI untuk menahan suku bunga sementara.

“Bank Indonesia telah secara pre-emptive menaikkan suku bunga acuan terlebih dahulu. Oleh karena itu ada window untuk menahan suku bunga sementara waktu. Tapi BI masih memiliki ruang gerak untuk menaikkan suku bunga acuan apabila diperlukan,” katanya.

Meski dampak langsung dinilai terbatas, Enrico mengingatkan volatilitas pasar masih perlu dicermati, terutama pergerakan rupiah, arus modal dan kondisi pasar keuangan domestik seiring perubahan kebijakan moneter global.(DRI)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *