FACEINDONESIA.CO.ID-Pendidikan bermutu tumbuh ketika kepedulian bertemu dengan kolaborasi. Di permukiman Suku Anak Dalam (SAD) Pasir Putih, Kecamatan Pelepat, Kabupaten Bungo, Jambi, pendampingan yang berlangsung sejak 2014 membuka akses pendidikan bagi anak-anak yang sebelumnya sulit menjangkaunya. Berangkat dari hasil tersebut, masyarakat bersama pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan kini merintis Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebagai upaya memperluas layanan pendidikan bagi anak-anak di komunitas.
Perjalanan tersebut diawali oleh pendampingan yang dilakukan Ulvi Monica Aulia, lulusan Kehutanan, Universitas Jambi, yang bergabung sebagai pendamping komunitas SAD. Melalui konsep sekolah alam yang berlangsung di sudung-sudung hingga berkembang menjadi rumah belajar, pendampingan yang dilakukan secara konsisten selama lebih dari satu dekade kini mengantarkan lahirnya rintisan PAUD yang inklusif bagi anak-anak SAD maupun masyarakat sekitar.
Ulvi menyampaikan bahwa ketika masyarakat SAD memperoleh program rehabilitasi sosial dan menetap di permukiman tetap, ruang belajar terus berkembang. Bersama pemerintah desa dibangun perpustakaan kecil di dekat Pustu Pasir Putih sebagai tempat anak-anak belajar. Kegiatan belajar juga berlangsung di rumah pendamping hingga pada 2023 berdiri Ghumah Belajo Bhetilek Elmu, yang dalam bahasa Rimba berarti Rumah Belajar Mencari Ilmu. Perpustakaan komunitas tersebut kini menjadi tempat anak-anak belajar membaca, menulis, berhitung, mengerjakan tugas sekolah, serta mengikuti berbagai kegiatan pengembangan diri setiap hari.
“_Alhamdulillah_, antusiasme anak-anak sangat tinggi. Mereka datang dengan semangat untuk belajar membaca, menulis, berhitung, mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah, serta mengikuti berbagai kegiatan pengembangan diri. Kami bersyukur karena pendampingan yang dilakukan selama ini mulai menunjukkan hasil. Saat ini semakin banyak anak-anak komunitas yang telah bersekolah di pendidikan formal, bahkan sudah ada yang berhasil melanjutkan ke perguruan tinggi. Tahun ini, salah satu anak dampingan kami juga sedang mengikuti proses pendaftaran kuliah di AKBID Amanah Muara Bungo,” tutur Ulvi dalam pernyataan yang disampaikan pada Selasa (4/8).
Ia menjelaskan bahwa masyarakat SAD jika bersekolah di PAUD di luar komunitas, sampai saat ini masih cukup sulit. Selain karena faktor akses, masih ada stigma dari sebagian masyarakat luar yang membuat orang tua merasa kurang nyaman untuk menyekolahkan anak-anak mereka di sana. Sementara itu, anak-anak terus bertumbuh, banyak dari mereka yang akhirnya langsung masuk SD tanpa pernah mendapatkan pendidikan PAUD. Akibatnya, mereka sering mengalami kesulitan beradaptasi, baik dari sisi kemampuan dasar belajar maupun kebiasaan mengikuti proses pembelajaran.
Karena itu, menurut Ulvi, mendirikan PAUD di dalam komunitas merupakan langkah yang sangat strategis. Dengan begitu pun, anak-anak mendapatkan kesempatan belajar sejak dini di lingkungan yang aman, dekat dengan keluarga, dan tetap menghargai budaya mereka. “Harapannya, ketika mereka melanjutkan ke jenjang SD, mereka sudah memiliki kesiapan belajar yang lebih baik,” ujar Ulvi.
Ia juga mengungkapkan harapannya agar kehadiran PAUD tersebut tidak hanya memperluas akses pendidikan, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih luas bagi seluruh masyarakat di wilayah tersebut serta menjadi ruang belajar bersama yang mempererat hubungan antara komunitas SAD dan masyarakat sekitar.
“Kalau melihat dampak hasilnya sudah cukup luar biasa. Anak-anak yang sebelumnya sama sekali belum mengenal pendidikan, sekarang sudah mulai mengenal huruf, angka, warna, dan memiliki bekal dasar sebelum memasuki jenjang sekolah dasar. Mereka juga menjadi lebih percaya diri, berani menyapa, berbincang, dan berinteraksi dengan orang-orang baru yang sebelumnya belum mereka kenal,” ungkapnya.
Ulvi mengatakan jika SAD dulunya dikenal sangat tertutup dan cenderung menghindari interaksi dengan orang luar. Bahkan, baik orang tua maupun anak-anak merasa tidak nyaman ketika harus berhadapan dengan orang yang baru mereka kenal.
“_Alhamdulillah_ melalui proses pendampingan yang berlangsung bertahun-tahun dan kegiatan belajar yang dilakukan secara konsisten, perubahan itu mulai terlihat. Anak-anak sekarang jauh lebih terbuka, lebih mudah diajak berkomunikasi, dan lebih percaya diri dalam berinteraksi dengan siapa pun,” jelas Ulvi.
Kisah dari Kabupaten Bungo menunjukkan bahwa pendidikan bermutu lahir dari gotong royong yang tumbuh secara konsisten. Ketika masyarakat, organisasi masyarakat sipil, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan bergandengan tangan, partisipasi semesta menghadirkan kesempatan belajar yang lebih setara bagi setiap anak Indonesia, termasuk anak-anak Suku Anak Dalam.(ZID)






