Kala Menag Menguji Bacaan dan Hafalan Qur’an Siswa MTsN 1 Kota Bogor

Dok.Kemenag

FACEINDONESIA.CO.ID – Suasana kelas itu mendadak berubah ketika Menteri Agama Nasaruddin Umar melangkah masuk. Para siswa MTsN 1 Kota Bogor yang semula duduk tenang di bangku masing-masing kini tampak menahan rasa gugup sekaligus penasaran. Mereka tak menyangka kunjungan Menteri Agama ke madrasahnya akan berujung pada sebuah “ujian dadakan”.

Nasaruddin tidak langsung berbicara tentang gedung baru atau program pemerintah. Ia justru memulai dengan pertanyaan sederhana. “Coba saya mau dengar bacaan Al-Qur’annya. Siapa yang siap?”, tanya Menag. Seorang siswi tampak mengangkat tangannya malu-malu.

Bacaan Lainnya

Tak lama, lantunan ayat Al-Qur’an mengalir perlahan. Menag Nasaruddin Umar menyimak sembari tersenyum, sambil sesekali mengkoreksi bacaan Al-Qur’an tersebut.

Usai mendengarkan dan tersenyum puas mendengar lantunan ayat-ayat Al-Quran, Menag kembali mengeluarkan pertanyaan. Kali ini, iya mencari siapa siswa yang telah menghafal Al-Qur’an. “Siapa yang hafal lebih dari satu juz?” tanyanya.

Beberapa tangan terangkat. Salah seorang siswa menjawab dengan mantap.

“Dua setengah juz.”

Jawaban itu membuat Menag tersenyum. Ia kemudian mengawali bacaan Surat Al-Mulk. Belum lama membaca beberapa ayat, ia berhenti dan menoleh kepada para siswa.

“Coba lanjutkan,” ujarnya.

Sejenak ruangan hening. Namun tak lama kemudian, ayat demi ayat mengalir dari bibir para siswa. Mereka melanjutkan bacaan yang dimulai Menteri Agama dengan lancar.

“Teruskan hafalannya,” kata Nasaruddin memberikan semangat.

“Kalau hafal Al-Qur’an nanti mudah diterima di mana saja,” sambung Menag.

Bagi siswa-siswa yang duduk di kelas itu, momen tersebut menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Tidak setiap hari mereka mendapat kesempatan menunjukkan hafalan Al-Qur’an langsung di hadapan seorang Menteri Agama yang juga dikenal sebagai ulama dan pakar tafsir Al-Qur’an.

Kunjungan itu berlangsung saat Menag meninjau hasil revitalisasi MTsN 1 Kota Bogor yang kini memiliki wajah baru. Ruang-ruang belajar yang lebih nyaman, bangunan yang lebih representatif, serta lingkungan sekolah yang semakin tertata menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kualitas pendidikan madrasah.

Namun perhatian Nasaruddin tidak hanya tertuju pada bangunan.

Ia juga berbicara tentang lingkungan sekolah yang menurutnya perlu terus dipercantik. Di hadapan para guru dan siswa, Menag mendorong agar kawasan madrasah dilengkapi dengan lebih banyak ruang hijau.

“Setelah renovasi selesai, diperindah lagi dengan taman-taman. Ekoteologinya tampilkan di sini,” pesannya.

Bagi Nasaruddin, madrasah bukan hanya tempat belajar ilmu pengetahuan dan agama, tetapi juga ruang untuk menanamkan kesadaran merawat lingkungan sebagai bagian dari pengamalan nilai-nilai keagamaan.

Di tengah dialog yang hangat, Menag kemudian mengingatkan para siswa bahwa mereka adalah anak-anak pilihan.

Ia mengungkapkan bahwa minat masyarakat untuk bersekolah di MTsN 1 Kota Bogor sangat tinggi. Dari lebih dari 600 pendaftar, hanya sekitar 320 siswa yang diterima.

“Berarti kalian ini orang-orang terpilih,” kata Menag.

Para siswa serempak memperhatikan.

“Kalian orang hebat, kan?” tanyanya.

“Hebat…” jawab para siswa hampir bersamaan.

“Jadi jangan berhenti jadi orang hebat,” lanjutnya disambut senyum para peserta didik.

Pesan itu terasa sederhana, tetapi membekas. Di ruang kelas yang baru direvitalisasi, Menag tidak hanya menguji hafalan Al-Qur’an para siswa. Ia juga menanamkan kepercayaan diri bahwa mereka memiliki potensi besar untuk berkembang.

Menjelang akhir kunjungan, suasana yang semula tegang berubah menjadi penuh keakraban. Tawa dan senyum mengiringi langkah Menag saat meninggalkan kelas.

Hari itu, para siswa MTsN 1 Kota Bogor belajar satu pelajaran penting. Menjadi hebat bukan hanya soal berhasil masuk ke madrasah favorit atau memiliki gedung sekolah yang megah. Menjadi hebat adalah tentang terus menjaga semangat belajar, memperkuat hafalan Al-Qur’an, dan tidak pernah berhenti mengembangkan diri.

Sebuah pesan yang lahir dari percakapan sederhana antara seorang Menteri Agama dan para siswa di dalam kelas. Namun bagi mereka yang mengalaminya langsung, pesan itu mungkin akan dikenang jauh lebih lama daripada bangunan baru yang berdiri di sekitar mereka.(DEN)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *