FACEINDONESIA.CO.ID – Menghafal 30 juz Al-Qur’an adalah pencapaian monumental. Namun hal tersebut sejatinya baru anak tangga pertama dari sebuah perjalanan spiritual dan intelektual yang panjang.
Pesan ini disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar, saat memberikan sambutan dalam perhelatan akbar Wisuda Tahfidz Yayasan Sulaimaniyah yang digelar di 165 Tower, Jakarta Selatan. Menag mendorong para santri untuk terus menaikkan kapasitas diri dan tidak lekas berpuas diri pada kemampuan membaca dan menghafal semata.
Menag mengupas peran penting penguasaan empat lapis pemahaman Al-Qur’an untuk melahirkan generasi Al-‘Alimul ‘Allamah. Lapis pemahaman tersebut dimulai dari Ibarat Al-Qur’an yang mencakup tajwid dan hafalan, lalu meningkat ke Isyarat Al-Qur’an yang menuntut penguasaan tata bahasa formal melalui Nahwu, Sharaf, dan Balaghah.
Setelah fondasi tersebut kuat, para penghafal didorong untuk menembus lapis ketiga, yakni Latha’if Al-Qur’an, sebuah tingkatan di mana seseorang mulai memahami makna batin dan nilai spiritual dari ayat suci. Puncak dari hierarki ini adalah Haqaiqul Qur’an, yakni kemampuan menyelami hakikat terdalam dari Kalamullah.
“Bangsa Indonesia dan dunia mengharapkan orang-orang yang sudah sampai ke tingkat Haqaiqul Qur’an. Tidak perlu semuanya, tapi mungkin segelintir, tapi itu sudah bisa menjadi matahari menerangi dunia,” ujar Menag di hadapan para hadirin pada Selasa (16/06/2026).
Untuk mencapai esensi pemahaman tertinggi tersebut, Menag menegaskan perlunya metodologi keilmuan yang spesifik. Pendekatan intelektual yang hanya mengandalkan concentration (konsentrasi logika) tidaklah cukup. Hal itu harus diimbangi dengan contemplation (kontemplasi spiritual) dan consecration (kepasrahan total kepada Allah SWT). Kombinasi pembersihan fisik dan batin inilah yang menjadi kunci pembuka rahasia Al-Qur’an.
Lebih lanjut, Menag menitipkan pesan agar momen wisuda ini dijadikan pijakan awal, bukan garis akhir.
“Ini bukan akhir daripada sebuah pencarian setelah khatam 30 Juz. Justru kita menganggap ini adalah awal daripada sebuah pencarian panjang untuk mengenali Al-Quran,” pesannya di hadapan 350 wisudawan dan wisudawati yang lulus hari ini.
Penghargaan khusus juga dialamatkan kepada Yayasan Tahfidz Sulaimaniyah. Yayasan yang berdiri sejak 2005 ini dipuji atas dedikasinya yang konsisten mencetak penghafal Al-Qur’an bertaraf internasional melalui kerja-kerja senyap yang jauh dari riuh publisitas.
“Yayasan Sulaimaniyah ini tidak ‘berkoar-koar’, tidak pernah ‘menepuk dada’, dan minim mempublikasikan prestasinya. Tapi diam-diam mereka melakukan bakti kemanusiaan. Maaf saya agak terharu pada pagi hari ini, (yayasan ini) tidak populer di bumi tapi bisa saja menjadi ‘selebriti’ (di) langit,” ungkap Menag.
Menutup pesannya, Menag mengingatkan bahwa kesuksesan para wisudawan mustahil terwujud tanpa rida dan pengorbanan orang tua. “Kelak di akhirat, para orang tua yang menuntun anaknya menghafal Al-Qur’an akan dikalungkan mahkota yang cahayanya lebih terang dari matahari,” pungkasnya.
Ajakan untuk terus menuntut ilmu dari ayunan hingga liang lahat pun menjadi penutup dari sambutan tersebut.
Acara wisuda turut dihadiri sejumlah tokoh-tokoh yang turut memberikan dukungan moral bagi kemajuan pendidikan Islam di Tanah Air. Terlihat hadir dalam majelis tersebut, Wakil Presiden RI ke-13 K.H. Ma’ruf Amin, Kepala Kanwil Kemenag DKI Jakarta, Adib, beserta pimpinan dan jajaran pengurus Yayasan Tahfidz Sulaimaniyah. Turut menjadi saksi dalam perhelatan ini adalah para ulama, pejabat, serta tamu kehormatan dan delegasi pencinta Al-Qur’an dari mancanegara, mulai dari Turki, Eropa, Australia, Malaysia, hingga Singapura.(DEN)






