Vaksinasi dunia di 2025

Prof Tjandra Yoga Aditama

FACEINDONESIA.CO.ID – Di akhir 2025 WHO melaporkan tujuh perkembangan vaksinasi di dunia. Pertama adalah kematian akibat campak di dunia turun 88% sejak tahun 2000, yang tentu utamanya adalah karena makin luasnya cakupan imunisasi campak di berbagai negara. Sudah ada 96 negara yang mencapai status eliminasi campak. Di sisi lain, berbagai negara masih melaporkan peningkatan kasus campak, seperti pernah juga dilaporkan di negara kita. Kementerian Kesehatan kita menyoroti meningkatnya kasus campak di Indonesia yang berkaitan dengan turunnya cakupan imunisasi rutin lengkap dalam beberapa tahun terakhir. Kejadian Luar Biasa (KLB) campak kembali muncul, salah satunya di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Perkembangan ke dua, di tahun 2025 dunia meluncurkan vaksin malaria. Di akhir 2025 ini sudah ada 24 negara di Afrika yang memasukkan vaksinasi malaria dalam program imunisasi nasional negaranya. Pemberian vaksinasi malaria memang merupakan salah satu dari empat komponen penting penanganan malaria, bersama dengan upaya penanganan kasus, pengendalian vektor serta pemberian kemoprofilaksis. Untuk negara kita maka utamanya masalah Malaria ada di Papua, serta ada juga di kawasan timur negara kita.

Bacaan Lainnya

Perkembangan ke tiga tentang imunisasi adalah makin majunya penelitian untuk mendapatkan vaksin baru tuberkulosis, untuk menggantikan vaksin BCG yang sudah berumur lebih dari 100 tahun. Pada November 2025 bulan yang lalu maka WHO memang sudah mengeluarkan laporan kemajuan (“milestone report”) tentang hal ini. Kita adalah negara penyumbang kasus tuberkulosis terbanyak ke dua di dunia, dan kalau nantinya memang akan ada vaksin tuberkulosis yang baru maka tentu merupakan berita baik bagi kita di Indonesia.

Perkembangan ke empat adalah tentang vaksin Meningitis, termasuk vaksinasi streptokokus grup B untuk perlindungan Ibu dan bayi baru lahir. Ini sejalan dengan peta jalan dunia untuk mengatasi meningitis pada 2030 diagnosis, “Defeating Meningitis by 2030”.

Perkembangan ke lima, tahun 2025 ditandai 25 tahun bebas polio di WHO kawasan Pasifik Barat (“Western Pacific”). Di negara kita memang masih ada kasus yang berhubungan dengan vaksin, atau “vaccine derived polio virus – VDPV”. Kita tahu bahwa di tahun 2025 ini jemaah Haji kita harus mendapat imunisasi polio, dan ini terjadi karena ada kasus VDPV di negara kita.

Perkembangan ke enam adalah tentang imunisasi demam kuning. Kegiatannya antara lain , memproses ketersediaan vaksin demam kuning secara darurat sebanyak 6 juta dosis dan vaksinasi pencegahan yang melindungi sampai lebih dari 38 juta orang di beberapa negara Afrika. Perkembangan ke tujuh yang disampaikan WHO di akhir 2025 ini adalah kemajuan vaksinasi “human papiloma virus – HPV”. Di tahun 2025 maka target memvaksinasi HPV pada 86 juta anak perempuan telah berhasil dicapai. Makin banyak negara dunia yang memasukkan vaksinasi HPV dalam program imunisasi mereka, yang tentu akan menunjang visi dunia agar kanker serviks tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat.

Laporan WHO di akhir tahun ini sangat baik, dan tentu akan baik kalau kita di Indonesia juga punya analisa dan laporan serupa pula.

Prof Tjandra Yoga Aditama

  • Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia
    Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes
  • Penerima Rekor MURI April 2024, Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 – PERSI dan Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025. (Wis)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *