Dari Lambung Pesawat ke Tangan Jemaah, Petugas Bagasi Kawal Perjalanan Koper Jemaah Haji

Dok.Kemenhaj

FACEINDONESIA.CO.ID – Di balik kedatangan jemaah haji Indonesia di Tanah Suci, ada satu proses pelayanan yang tidak selalu terlihat, namun sangat dekat dengan kebutuhan jemaah: pengawasan koper dan barang bawaan. Setelah perjalanan panjang dari Tanah Air, di dalam koper tersimpan pakaian, perlengkapan ibadah, obat-obatan pribadi, hingga kebutuhan harian yang akan menemani jemaah selama menjalankan rangkaian ibadah haji.

Karena itu, petugas checker bagasi di Daerah Kerja Bandara terus melakukan pemantauan sejak bagasi jemaah tiba di area bandara. Mereka memastikan proses penurunan, penghitungan, pemantauan, hingga koordinasi distribusi bagasi berjalan dengan cermat.

Bacaan Lainnya

Kepala Daerah Kerja Bandara, Abdul Basir, pada Sabtu (2/5/2026), mengatakan bahwa tugas petugas checker bagasi bukan hanya menghitung koper, tetapi juga ikut memastikan barang bawaan jemaah tetap termonitor dalam alur kedatangan.

“Petugas checker bagasi bekerja untuk memastikan setiap koper jemaah terpantau dengan baik. Karena bagi jemaah, koper itu sangat penting. Di dalamnya ada kebutuhan pribadi, perlengkapan ibadah, dan barang-barang yang mereka perlukan selama berada di Tanah Suci,” ujar Abdul Basir.

Menurutnya, dalam proses perjalanan udara, kondisi koper dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya adalah kondisi koper yang terlalu penuh, sehingga tekanan pada bagian resleting, roda, pegangan, atau badan koper menjadi lebih besar. Selain itu, proses penempatan dan pemindahan bagasi di berbagai area, termasuk saat koper berada di dalam pesawat, juga dapat memengaruhi kondisi fisik koper saat tiba di tujuan.

“Kondisi koper bisa dipengaruhi oleh banyak faktor. Di antaranya koper yang terlalu penuh, kemudian proses penempatan koper di area bagasi pesawat, serta perpindahan dari satu titik ke titik lainnya. Karena itu, kami terus melakukan pemantauan agar bila ada kendala dapat segera diketahui dan ditindaklanjuti sesuai alurnya,” jelasnya.

Meski demikian, apabila terdapat jemaah yang mendapati kopernya mengalami kerusakan, Abdul Basir mengimbau agar laporan disampaikan melalui jalur resmi, yaitu kepada Ketua Kloter masing-masing. Selanjutnya, Ketua Kloter dapat meneruskan laporan tersebut kepada petugas haji di daerah kerja tempat jemaah berada, baik di Makkah maupun Madinah.

“Bagi jemaah yang mengalami kerusakan koper, kami mengimbau agar segera melapor kepada Ketua Kloter masing-masing. Nanti laporan tersebut dapat diteruskan kepada petugas haji di daerah kerja, baik di Makkah maupun Madinah, sesuai posisi jemaah berada,” katanya.

Ia menambahkan, jalur pelaporan melalui Ketua Kloter penting agar setiap laporan dapat tercatat dengan baik dan ditangani secara tertib. Dengan begitu, petugas dapat melakukan pendataan, pengecekan, serta koordinasi lanjutan sesuai prosedur yang berlaku.

“Prinsipnya, kami ingin setiap kendala yang dialami jemaah bisa tersampaikan dengan baik. Karena itu, laporan perlu melalui Ketua Kloter agar jelas datanya, jelas jemaahnya, dan bisa diteruskan kepada petugas yang menangani di wilayah masing-masing,” lanjut Abdul Basir.

Di balik hiruk-pikuk bandara, para petugas checker bagasi menjadi bagian dari barisan layanan yang bekerja senyap namun penting.

“Pelayanan kepada jemaah tidak berhenti saat mereka turun dari pesawat. Seluruh proses setelah itu juga menjadi perhatian kami, termasuk bagasi. Harapannya, jemaah bisa lebih tenang, lebih nyaman, dan dapat fokus menjalankan ibadah,” tandasnya.

Mereka menjaga setiap koper dengan ketelitian, karena di balik satu koper ada kebutuhan, harapan, dan ketenangan jemaah yang baru memulai perjalanan ibadahnya di Tanah Suci. (San)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *