FACEINDONESIA.CO.ID- Pemerintah mempercepat penanganan persoalan sampah di Kota Bekasi, Jawa Barat, melalui strategi dari hulu hingga hilir. Upaya tersebut dilakukan dengan mendorong masyarakat memilah sampah sejak dari rumah sekaligus membangun fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan, persoalan sampah di Bekasi harus ditangani secara masif dan modern. Timbulan sampah di Kota Bekasi mencapai sekitar 1.800 ton per hari dan telah masuk kategori darurat sampah.
“Bekasi baru-baru ini menjadi perhatian dunia karena cemaran gas metan dari TPA-TPA di sekitar Bantargebang. Kita harus segera menyelesaikan persoalan ini,” ujar Zulhas saat menghadiri Apel Gerak Pilah Sampah dan groundbreaking PSEL Kota Bekasi, Rabu (26/8/2026).
Apel Gerak Pilah Sampah Kota Bekasi diikuti lebih dari 2.000 peserta. Gerakan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah. Langkah serupa sebelumnya dilakukan di Bandung Raya dengan melibatkan sekitar 4.000 peserta.
Menurut Zulhas, pemilahan sampah dari sumber merupakan langkah sederhana tetapi berdampak besar. Sampah yang telah dipilah akan memudahkan proses pengolahan dan mengurangi volume sampah yang dibawa ke TPA.
Di sisi hilir, Pemerintah mulai membangun PSEL Kota Bekasi dengan teknologi Waste to Energy. Fasilitas ini ditargetkan mampu mengolah sekitar 1.500 ton sampah per hari atau sekitar 70 persen dari timbulan sampah Kota Bekasi.
PSEL Bekasi juga diproyeksikan menurunkan emisi dari TPA hingga 80 persen serta membuka sekitar 1.000 lapangan kerja.
“PSEL Bekasi ini mendatangkan empat manfaat yaitu pengelolaan sampah, menghasilkan energi hijau, mengurangi emisi, dan menggerakkan ekonomi lokal,” tegas Zulhas.
Pembangunan PSEL Bekasi merupakan bagian dari percepatan pembangunan fasilitas serupa secara nasional. Pemerintah sebelumnya telah memulai pembangunan PSEL Bali dan Legoknangka, Jawa Barat. Setelah Bekasi, pembangunan dilanjutkan dengan PSEL Bogor Raya-1.
Secara keseluruhan, pemerintah menyiapkan 13 lokasi PSEL baru. Namun, Zulhas menegaskan PSEL bukan satu-satunya solusi. Jika seluruh fasilitas beroperasi, kapasitas pengolahannya baru sekitar 22,5 persen dari total timbulan sampah.
Karena itu, pengurangan sampah dari sumber, pemilahan, dan penggunaan berbagai teknologi pengolahan tetap menjadi bagian penting strategi nasional.
Selain PSEL, pemerintah menyiapkan teknologi pirolisis untuk menangani timbunan sampah lama di TPA. Teknologi tersebut dikembangkan melalui proyek percontohan di lima lokasi dan berpotensi mengolah sampah lama menjadi bahan bakar minyak terbarukan setara solar.
Pemerintah juga memastikan keberadaan PSEL tidak akan menghilangkan mata pencaharian pemulung. Sebab, tidak seluruh sampah dapat diolah melalui PSEL dan fasilitas tersebut justru berpotensi membuka lapangan pekerjaan baru.
Ketua Asosiasi Pemulung Indonesia Pris Polly menyambut positif penjelasan tersebut. Ia mengatakan para pemulung sebelumnya khawatir PSEL akan menghilangkan sumber penghasilan mereka.
Dengan strategi tersebut, pemerintah mendorong pengelolaan sampah secara menyeluruh, mulai dari pemilahan di rumah, pengolahan sampah baru melalui PSEL hingga penanganan sampah lama dengan teknologi pirolisis.(DRI)






