FACEINDONESIA.CO.ID – Rona antusias tampak dari raut wajah muda-mudi berseragam sekolah peserta Training of Trainer (ToT) Youth Content Creator Rohis Indonesia. Mereka terlihat begitu asik menyimak materi leadership yang disampaikan seorang profesional yang berpengalaman puluhan tahun di dunia korporasi. Dia adalah M. Riza Perdana Kusuma, ayah dua anak yang kini memilih jalan kehidupan slow living yang bermakna.
Pria yang akrab disapa Riza tersebut didapuk memberikan penguatan kompetensi kepemimpinan di era digital bagi peserta didik SMA/SMK yang tergabung dalam Pimpinan Pusat Rohis Indonesia. Kepengurusan Rohis Indonesia terbentuk sebagai hasil Kongres Rohis Nasional I yang dilaksanakan pada 12-15 November 2025 di Jakarta. Penyelenggaraan Kongres Rohis Nasional I terwujud atas prakarsa Direktorat Pendidikan Agama Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama.
Riza yang pernah menduduki jabatan direksi di beberapa perusahaan BUMN memantik nalar kritis peserta ToT dengan pernyataannya bahwa kepemimpinan di era digital adalah suatu hal yang menantang bagi siapapun. Riza menggarisbawahi bahwa kemajuan teknologi menuntut para pemimpin untuk menyesuaikan gaya kepemimpinan mereka dengan cara dan budaya kerja organisasi yang serba digital seperti sekarang ini.
Putra Asli Yogyakarta kelahiran 16 Februari 1972 itu juga mengingatkan bahwa Rohis sebagai organisasi sosial memiliki karakteristik yang tidak sama dengan organisasi bisnis. Pengurus Rohis bekerja atas dasar sukarela tanpa berpikir akan mendapat keuntungan secara materi di kemudian hari. Atribut semacam ini tentunya membutuhkan model kepemimpinan yang sesuai dengan keunikan yang melekat pada organisasi Rohis itu sendiri.
“Cara kerja yang berbeda tentu berimplikasi pada cara memimpin yang berbeda. Ada banyak hal tentang kepemimpinan hari ini yang tidak lagi sama dengan tantangan kepemimpinan di masa lalu,” ujar Direktur Operasional dan Komersil PT Angkasa Pura II tahun 2015-2017 ini mengajak peserta ToT untuk memahami konsekuensi seorang pemimpin di era disrupsi digital (Rabu, 24/06/2026).
Dirinya memberi contoh tentang gejala penyakit kategori baru yang menyerang mentalitas manusia, disebabkan penggunaan teknologi digital yang tidak bertanggung jawab. Kemudahan serta kepraktisan yang ditawarkan teknologi, kerap kali tidak diiringi dengan kesadaran untuk berperilaku beradab dalam menggunakannya. Dampak perilaku negatif tersebut tergambar dari berbagai penyakit mental yang muncul dan mengganggu proses kepemimpinan.
“Kita mengenal istilah penyakit-penyakit mental yang populer saat ini seperti popcorn brain, brain rot, cognitive overload, dan kecanduan dopamin. Orang lain tampak begitu sempurna di dunia maya. Sedangkan bagi diri sendiri, tanpa sadar hal itu dapat memicu rasa iri, menurunkan rasa percaya diri hingga berujung depresi,” terang Riza.
Di tengah dunia yang dipenuhi algoritma, header, dan kode, keterampilan kepemimpinan terpenting adalah empati. Organisasi tidak akan berjalan secara efektif bila tidak disertai kemampuan memimpin diri sendiri baik bagi yang memimpin maupun yang dipimpin. Menurut Riza, gaya kepemimpinan yang cocok diterapkan di era digital adalah kepemimpinan yang inklusif, kolaboratif, dan mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
“Kepemimpinan di era digital bukanlah tentang siapa yang memegang kendali mutlak atas bawahan melainkan kemampuan menginspirasi tim dalam lingkungan kerja yang tersebar, Kepemimpinan di era digital adalah tentang adaptabilitas, kolaborasi, dan pemberdayaan berbasis teknologi,” demikian pendiri Narapuspitan Library and Public Space ini menjelaskan esensi kepemimpinan di era digital.
Lebih lanjut, Riza mengungkapkan prasyarat yang harus dimiliki seorang pemimpin agar sukses memimpin di era digital, antara lain memiliki pola pikir digital (digital mindset), agilitas terhadap perkembangan teknologi, inovasi terbuka, dan berorientasi data. Keempat syarat tersebut akan membantu terbentuknya citra kepemimpinan yang efektif pada diri seseorang.
“Kita dihadapkan pada pilihan apakah mampu untuk terus belajar, beradaptasi, dan berevolusi menjadi pemimpin masa depan ataukah tetap tertinggal dan menjadi penonton pasif yang tidak diperhitungkan sama sekali,” tukasnya.
Sebanyak 78 murid SMA/SMK yang terhimpun dalam Pengurus Pusat Rohis Indonesia mengikuti Training of Trainer (ToT) Youth Content Creator. Kegiatan ini berlangsung selama 4 hari, 23-26 Juni 2026 di Denpasar, Bali. Kegiatan bertujuan membekali Pengurus Rohis Indonesia dengan berbagai keterampilan yang dibutuhkan di dunia digital untuk mengarusutamakan aksi literasi serta edukasi ekonomi dan keuangan syariah, khususnya di kalangan pelajar. Kegiatan terselenggara atas kerja sama dan kolaborasi antara Direktorat Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama dan Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) Bank Indonesia.(DEN)






