Prospek UMKM Tetap Terjaga di Tengah Tekanan Daya Beli

FACEINDONESIA.CO.ID- Optimisme pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) masih terjaga di tengah dinamika daya beli masyarakat dan kenaikan biaya usaha. Survei PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mencatat, aktivitas bisnis UMKM pada triwulan II-2026 tetap berada dalam fase pertumbuhan dengan indeks 102,1.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan, kondisi tersebut didukung perekonomian yang masih tumbuh positif, panen raya tanaman pangan, harga produk pertanian yang baik, serta mulai bergulirnya proyek pemerintah dan swasta.

“Faktor lainnya adalah kondisi cuaca yang kondusif dan penyaluran bantuan sosial yang tetap agresif,” kata Hery di Jakarta, Jumat (18/9/2026).

Meski masih tumbuh, laju ekspansi UMKM melambat dibandingkan triwulan I-2026. Beberapa faktor yang memengaruhi antara lain normalisasi permintaan setelah Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), pelemahan daya beli, kenaikan harga barang input dan biaya operasional, keterbatasan modal usaha, serta persaingan yang semakin ketat.

Untuk triwulan III-2026, prospek bisnis UMKM diperkirakan tetap ekspansif meski dengan laju yang lebih moderat. Peningkatan proyek pemerintah dan swasta dinilai dapat memberikan dampak positif terhadap sektor usaha lainnya.

Hery menyebut pelemahan daya beli dan risiko El Nino menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati, khususnya bagi UMKM di sektor pertanian.

Optimisme juga terlihat dari indeks ekspektasi sentimen bisnis UMKM untuk triwulan III-2026 yang mencapai 120,2. Angka di atas 100 tersebut menunjukkan pelaku UMKM masih memiliki keyakinan terhadap prospek ekonomi dan perkembangan usaha ke depan.

Dari sisi sektoral, sektor pertanian, konstruksi dan pertambangan pada triwulan II-2026 mencatat indeks di atas 100. Sektor konstruksi dan pertambangan diperkirakan tetap menjadi penopang pada triwulan III seiring meningkatnya proyek pemerintah dan swasta.

Sentimen bisnis sektor konstruksi tercatat naik 7,4 poin menjadi 110,8, sedangkan sektor pertambangan meningkat 1,6 poin menjadi 108,3.

Selain itu, kepercayaan pelaku UMKM terhadap pemerintah juga masih berada di atas 100. Indeks Kepercayaan Pelaku UMKM terhadap Pemerintah (IKP) pada triwulan II-2026 mencapai 107,4.

Hery mengatakan, hasil survei menunjukkan UMKM masih memiliki daya tahan di tengah moderasi aktivitas ekonomi. Menurutnya, menjaga daya beli masyarakat dan menciptakan ruang pertumbuhan menjadi hal penting bagi keberlanjutan UMKM.

“BRI akan terus mencermati dinamika tersebut sebagai bagian dari upaya mendukung UMKM agar mampu menjaga keberlanjutan usaha dan menangkap peluang pertumbuhan ke depan,” ujar Hery.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai prospek bisnis UMKM hingga akhir 2026 masih menunjukkan optimisme. Pembiayaan UMKM juga diperkirakan tetap tumbuh meski menghadapi sejumlah tantangan.

Tantangan tersebut meliputi rendahnya permintaan domestik, efisiensi anggaran daerah, pemulihan bencana di sejumlah wilayah, serta ketidakstabilan geopolitik yang dapat memengaruhi UMKM berorientasi ekspor.

Bhima mengatakan, prospek pembiayaan UMKM pada 2026 antara lain bergantung pada kebijakan penurunan suku bunga kredit di luar Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Di sisi lain, adopsi teknologi dan digitalisasi yang telah menjangkau lebih dari 25 juta pelaku usaha dinilai menjadi salah satu penggerak efisiensi penjualan.

“Pelaku usaha mau tidak mau harus adaptif terhadap fluktuasi daya beli serta memperluas jaringan produksi agar bisnis semakin kompetitif,” kata Bhima. (ZID)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *