FACEINDONESIA.CO.ID- PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mempercepat pembangunan infrastruktur liquefied natural gas (LNG) di berbagai wilayah Indonesia. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus menjaga keandalan pasokan gas bagi pembangkit listrik.
Strategi tersebut disampaikan General Manager Unit Pelaksana Proyek Gas dan BBM PLN EPI Agus Purnomo dalam Strategic Panel Gastech Exhibition & Conference 2026 di Bangkok International Trade & Exhibition Centre (BITEC), Bangkok, Thailand, Senin (14/9/2026).
Menurut Agus, tantangan pembangunan infrastruktur LNG saat ini bukan hanya berkaitan dengan pembiayaan, tetapi juga ketersediaan kapasitas industri, pemasok peralatan, galangan kapal, serta kontraktor agar proyek dapat diselesaikan tepat waktu.
“ Tantangannya bukan hanya mengembangkan proyek. Kami juga perlu memastikan kapasitas dari pemasok peralatan utama, galangan kapal, dan kontraktor pelaksana untuk menyelesaikan proyek tepat waktu,” ujar Agus.
Sejak 2023, PLN EPI mempercepat proyek midstream LNG di sekitar 25 lokasi di Indonesia untuk mendukung program dedieselisasi PLN, yakni menggantikan penggunaan diesel dengan LNG sekaligus meningkatkan keandalan sistem kelistrikan.
Di tengah meningkatnya kebutuhan infrastruktur energi global, industri LNG juga menghadapi keterbatasan kapasitas eksekusi. Kapasitas pembangunan kapal LNG berukuran besar di Korea Selatan dan China diperkirakan sekitar 85 kapal per tahun pada awal 2026, sementara jumlah pesanan kapal LNG mencapai 268 unit per 31 Maret 2026.
Sejumlah kapal yang dipesan pada 2026 bahkan memiliki jadwal pengiriman hingga 2029.
“Capacity does not mean availability. Bertambahnya kapasitas industri tidak serta-merta menjamin tersedianya slot produksi ketika proyek membutuhkan peralatan atau kapal,” kata Agus.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, PLN EPI mengelola pengembangan proyek LNG midstream sebagai satu portofolio terintegrasi. Fasilitas penyimpanan dan regasifikasi terapung (FSRU), kapal LNG, fasilitas regasifikasi, jaringan pipa hingga koneksi pembangkit direncanakan secara sinkron.
Strategi tersebut mencakup perencanaan kapasitas dalam satu portofolio, keterlibatan pemasok sejak awal, fleksibilitas strategi aset, serta standardisasi desain dan peralatan.
PLN EPI juga mengevaluasi opsi konversi kapal LNG yang sudah ada menjadi FSRU sebagai alternatif ketika kapasitas galangan untuk pembangunan kapal baru terbatas. Opsi ini tidak selalu lebih cepat atau murah, namun dapat menjadi jalur alternatif dalam pelaksanaan proyek.
Selain memanfaatkan teknologi dan pemasok global, PLN EPI mendorong penguatan industri dalam negeri melalui pekerjaan konstruksi, fabrikasi, tangki penyimpanan, perpipaan, sistem kelistrikan, galangan kapal, operasi dan pemeliharaan hingga jasa rekayasa.
“Kami membutuhkan kemampuan global untuk teknologi yang sangat khusus, tetapi skala pipeline proyek Indonesia dapat digunakan untuk secara bertahap membangun kemampuan domestik yang lebih kuat,” ujar Agus.
Hingga 2029, PLN EPI menargetkan pengembangan hampir 20 lokasi terminal penerimaan LNG satelit darat. Lokasi tersebut terdiri dari satu terminal di Nias, enam di Sulawesi, sembilan di Nusa Tenggara, dan empat di Papua Utara melalui empat klaster mitra strategis atau Joint Development Agreement (JDA).
Pengembangan terminal tersebut akan dilakukan dalam kerangka program terintegrasi agar rantai pasok LNG di berbagai wilayah dapat berjalan secara efisien dan saling terhubung.
Agus menambahkan, pembangunan infrastruktur energi membutuhkan sinergi antara pemerintah, industri dan lembaga pembiayaan. Pemerintah berperan menciptakan kepastian kebijakan dan iklim investasi, industri menjalankan proyek, sedangkan lembaga pembiayaan memberikan dukungan modal.
“Pemerintah menciptakan lingkungan yang memungkinkan, industri menjalankan proyek, dan pemberi pinjaman menyediakan modal. Ketiganya perlu selaras sejak awal,” kata Agus.
Melalui percepatan pembangunan dan pengelolaan proyek secara terintegrasi, PLN EPI menargetkan infrastruktur LNG dapat tersedia tepat waktu untuk mendukung ketahanan energi serta keandalan sistem kelistrikan Indonesia.(ZID)






