PPTI Dorong Kesadaran Bahaya Rokok terhadap Tuberkulosis

Prof Tjandra. Dok. PPTI

FACEINDONESIA.CO.ID – Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia(PPTI) menggelar talkshow bertajuk NAPAS (Naikkan Awareness tentang Paru dan Asap) pada Rabu (3/6/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai hubungan antara tuberkulosis (TB) dan kebiasaan merokok.

Acara dibuka oleh Ketua Umum PPTI, Yani Panigoro, serta dihadiri perwakilan Wanita Indonesia Tanpa Tembakau (WITT) dan sejumlah organisasi kesehatan lainnya. Selain paparan dari Prof Tjandra Yoga Aditama, diskusi juga menghadirkan aktivis muda pengendalian tembakau, Putri WITT 2026, serta seorang penyintas TB yang merupakan mantan perokok bersama istrinya yang berbagi pengalaman selama menghadapi penyakit tersebut.

Berbagai pertanyaan menarik muncul dalam diskusi. Salah satunya terkait usulan agar penyakit yang disebabkan atau berkaitan dengan rokok memiliki nomenklatur diagnosis yang lebih jelas dalam sistem klasifikasi penyakit internasional atau International Classification of Diseases (ICD).

Menanggapi hal tersebut, Prof Tjandra menjelaskan bahwa wacana serupa pernah berkembang dalam pembahasan penyakit yang terkait dengan Antimicrobial Resistance (AMR), sehingga pendekatan serupa untuk penyakit akibat rokok layak dipertimbangkan.

Pembahasan juga menyinggung dampak rokok elektronik atau vape terhadap tuberkulosis. Prof Tjandra mengutip hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Public Health Challenges edisi Februari 2026 berjudul “Vaping and Tuberculosis: An Overlooked Risk in High-Burden South Asian Countries”, yang mengulas potensi risiko penggunaan vape terhadap kejadian TB.

Selain itu, dibahas pula dampak penggunaan smokeless tobacco atau tembakau tanpa asap yang dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan di rongga mulut, mulai dari peradangan hingga kanker pada lidah, pipi, dan jaringan mulut lainnya.

Menjawab pertanyaan peserta mengenai hubungan rokok dan TB, Prof Tjandra menjelaskan bahwa asap rokok dapat merusak jaringan paru-paru dan mengganggu sistem kekebalan tubuh. Kondisi tersebut pada akhirnya meningkatkan risiko seseorang terinfeksi tuberkulosis.

Menurutnya, keterlibatan generasi muda dalam kampanye pengendalian tembakau menjadi salah satu hal yang menggembirakan dalam kegiatan tersebut. Para panelis muda dinilai aktif mengedukasi masyarakat mengenai bahaya merokok dan pentingnya menjaga kesehatan paru.

Sejumlah influencer muda dengan ribuan pengikut di media sosial juga turut hadir. Kehadiran mereka diharapkan dapat membantu menyebarluaskan informasi mengenai bahaya rokok dan kaitannya dengan tuberkulosis, sehingga semakin banyak masyarakat memahami risiko kesehatan yang ditimbulkan serta terdorong untuk berhenti merokok. (ALA)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *