FACEINDONSIA.CO.ID – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Gerakan Maslahat Keluarga Nahdlatul Ulama (GKMNU) mendorong implementasi pendidikan kesehatan reproduksi di lingkungan pesantren. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah kekerasan seksual sekaligus meningkatkan kesehatan ibu dan anak di masa depan.
Komitmen tersebut disampaikan dalam Halaqah Implementasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri di Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, Jawa Barat. Kegiatan ini diikuti para pengasuh pesantren dari Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Ketua PBNU Bidang Kesejahteraan Masyarakat, Alissa Qatrunnada Wahid, mengatakan meningkatnya kasus kekerasan, termasuk kekerasan seksual di pesantren, menjadi alasan utama pentingnya edukasi kesehatan reproduksi bagi santri.
Menurutnya, pencegahan kekerasan seksual tidak cukup hanya mengandalkan aturan, tetapi juga harus dibarengi dengan pemahaman yang benar mengenai kesehatan reproduksi sejak usia remaja.
Alissa menegaskan, kesehatan reproduksi bukan hanya berkaitan dengan perilaku seksual.
Materi tersebut juga mencakup pencegahan anemia, penurunan angka kematian ibu dan bayi, serta persiapan generasi muda menjadi calon orang tua yang sehat.
“Pemahaman tentang kesehatan reproduksi perlu dihilangkan dari stigma negatif agar menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan pesantren yang aman dan sehat,” ujarnya.
Senada dengan itu, Ketua Tim Kerja Kesehatan Anak Usia Sekolah dan Remaja Kementerian Kesehatan, Evi Nilawaty, menyebut pendidikan kesehatan reproduksi merupakan salah satu kunci menekan angka kematian ibu di Indonesia sekaligus mencegah stunting.
Ia menjelaskan, angka kematian ibu memang terus menurun, namun masih lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara ASEAN. Karena itu, edukasi kesehatan reproduksi perlu diberikan kepada remaja putri maupun putra agar memiliki pengetahuan dan tanggung jawab yang sama.
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Masthuriyah Sukabumi, Abdul Barri, menilai pendidikan kesehatan reproduksi sangat dibutuhkan, terutama bagi santri yang memasuki masa pubertas.
Menurutnya, peran kiai, nyai, dan pembimbing asrama sangat penting dalam memberikan pendampingan agar santri memahami cara menjaga kesehatan reproduksi sejak dini.
Abdul Barri berharap program PBNU tidak berhenti pada kegiatan halaqah, tetapi dilanjutkan melalui pendampingan dan forum berbagi pengalaman antarpesantren agar implementasinya semakin efektif di berbagai daerah.(BRA)





