FACEINDONESIA.CO.ID- Pelabuhan Patimban, Jawa Barat, kembali mencatat tonggak penting dalam penguatan konektivitas logistik Indonesia. Kapal MV Blanco Ace, jenis Pure Car Carrier (PCC), berhasil melakukan uji sandar dan menunjukkan kesiapan Patimban melayani kapal berkapasitas besar.
Kapal tersebut memiliki panjang hampir 200 meter, tonase sekitar 72.700 GT, serta kapasitas angkut maksimum mencapai 5.906 kendaraan. Saat berkunjung ke Patimban, MV Blanco Ace membongkar sekitar 1.101 unit truk setelah sebelumnya berlayar dari Hambantota, Sri Lanka.
Ketua Dewan Pembina Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Yukki Nugrahawan Hanafi, menilai keberhasilan tersebut menunjukkan semakin siapnya infrastruktur dan operasional Pelabuhan Patimban.
Menurut Yukki, sandarnya kapal berkapasitas besar bukan sekadar pencapaian teknis, tetapi juga menjadi sinyal positif bagi dunia pelayaran internasional bahwa Patimban mampu melayani kapal besar dan volume kargo yang terus meningkat secara aman, efisien, dan kompetitif.
Perkembangan Patimban, lanjutnya, perlu dilihat dalam konteks kebutuhan Indonesia sebagai negara kepulauan sekaligus salah satu basis manufaktur terbesar di ASEAN. Pelabuhan harus terintegrasi dengan kawasan industri, jaringan transportasi, serta sistem logistik nasional dan global.
Posisi Patimban yang dekat dengan pusat industri otomotif dan manufaktur Jawa Barat dinilai strategis. Peningkatan kapasitas car terminal dapat mendukung ekspor-impor kendaraan sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok otomotif global.
“Industri tidak hanya membutuhkan pelabuhan dengan kapasitas besar. Yang dibutuhkan adalah ekosistem yang memberikan kepastian waktu, efisiensi biaya, konektivitas, digitalisasi, serta akses yang baik dari kawasan industri menuju pelabuhan,” ujar Yukki.
Selain pengembangan terminal kendaraan, layanan peti kemas internasional di Patimban juga mulai berkembang. Kondisi tersebut menunjukkan transformasi Patimban dari pelabuhan yang kuat di sektor otomotif menjadi gerbang logistik dan rantai pasok terintegrasi.
Semakin banyak kapal dan layanan internasional yang masuk, menurut Yukki, akan menciptakan skala ekonomi, meningkatkan konektivitas langsung dengan pasar global, serta memberikan lebih banyak pilihan bagi eksportir, importir, perusahaan pelayaran, dan pelaku logistik.
Yukki menegaskan, Patimban harus dikembangkan untuk menjawab kebutuhan Indonesia dalam 10 hingga 20 tahun mendatang. Pelabuhan tersebut diharapkan menjadi bagian dari strategi meningkatkan daya saing industri, memperkuat ketahanan rantai pasok, dan menarik investasi baru.
Ia juga menilai pengembangan Patimban tidak perlu dipandang sebagai persaingan dengan pelabuhan lain. Setiap pelabuhan memiliki fungsi dan keunggulan masing-masing yang dapat saling melengkapi dalam membangun jaringan logistik nasional yang lebih efisien.
“Target akhirnya bukan sekadar semakin banyak kapal yang datang. Ukuran keberhasilannya adalah apakah kehadiran Patimban mampu menurunkan logistics cost, meningkatkan keandalan rantai pasok, memperkuat ekspor, dan pada akhirnya meningkatkan daya saing Indonesia,” pungkas Yukki.(ZID)






