FACEINDONESIA.CO.ID- PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) terus mendorong lahirnya wirausaha muda yang kreatif, inovatif, dan mampu memanfaatkan teknologi digital. Komitmen tersebut diwujudkan melalui dukungan terhadap seminar bertajuk “Muda Berkarya, Berbisnis & Berdampak di Era Digital” yang digelar di Aula Umbara, Bogor, Jumat (6/11/2026).
Kegiatan ini bertujuan membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi perubahan dunia kerja sekaligus menangkap peluang bisnis di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).
Seminar yang digelar secara langsung tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari bidang pendidikan, industri media, dan teknologi AI. Materi yang diberikan mencakup literasi pekerjaan masa depan, pemanfaatan AI, hingga strategi produksi konten digital.
Tim SKM Bidang Transformasi Digital dan Kecerdasan Artifisial Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Ma’ruf Mutaqin, menjelaskan pentingnya Future of Work Literacy atau literasi pekerjaan masa depan. Menurutnya, generasi muda harus mampu beradaptasi dengan perubahan kebutuhan keterampilan akibat perkembangan teknologi dan otomatisasi.
“Otomatisasi memang tidak bisa dihindari, namun AI hadir untuk menghapus pekerjaan yang repetitif, bukan kemanusiaan kita. Peluang profesi baru justru terbuka lebar bagi mereka yang memiliki literasi digital tinggi. Anak muda hari ini wajib memahami karakteristik pekerjaan masa depan,” ujar Ma’ruf.
Sementara itu, CEO Monday Media Group, Deni Irawan, mengajak mahasiswa melihat perkembangan teknologi sebagai peluang untuk membangun usaha dan mengembangkan industri kreatif.
Ia mengingatkan agar penggunaan AI tetap disertai kemampuan berpikir kritis, pemeriksaan data, serta validasi informasi. Menurutnya, teknologi harus dimanfaatkan sebagai alat bantu, bukan menjadi satu-satunya sumber pengambilan keputusan.
“Kunci utama berbisnis dan berkarya di era ini adalah jangan menelan mentah-mentah hasil dari AI. Gunakan AI sebagai pemantik ide awal atau kompas, tetapi validasi data, cross-check fakta, dan sentuhan empati manusia tetap menjadi penentu agar kita tidak dibohongi oleh bias teknologi,” tegas Deni.
Praktisi AI, Sofwan Alwy, turut memberikan materi mengenai Workflow Pembuatan Konten Berbasis AI. Ia memperkenalkan cara mengintegrasikan berbagai perangkat AI untuk mempercepat proses produksi konten secara lebih efektif dan sistematis.
Sofwan mengibaratkan AI seperti kalkulator yang membantu mempercepat pekerjaan tanpa menghilangkan kemampuan berpikir manusia.
“AI itu seperti kalkulator, tidak membuat kita bodoh matematika, melainkan mempercepat proses hitung. Begitu juga dengan workflow konten; gunakan AI untuk memangkas waktu teknis yang melelahkan, sehingga energi dan waktu berpikir Anda bisa dialokasikan sepenuhnya untuk mengasah kreativitas mendalam serta strategi yang tidak bisa ditiru mesin,” jelasnya.
Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi interaktif. Sejumlah mahasiswa menyampaikan pertanyaan mengenai pemanfaatan AI secara bijak, potensi penyebaran informasi keliru, dampak teknologi terhadap lingkungan, hingga kekhawatiran berkurangnya lapangan pekerjaan akibat otomatisasi.
Peserta bernama Annisa, misalnya, mempertanyakan strategi agar mahasiswa dapat menggunakan AI secara bijak sekaligus menghindari informasi yang keliru dan bias.
Pertanyaan lainnya disampaikan Salwa yang menyoroti dampak lingkungan dari pengoperasian sistem AI serta potensi teknologi tersebut menggantikan peran tenaga kerja manusia.
Sementara itu, Izal mengingatkan risiko ketergantungan terhadap AI yang dapat memengaruhi kemampuan berpikir kritis dan kreativitas generasi muda.
Keterlibatan Jamkrindo sebagai sponsor utama dalam kegiatan ini merupakan bentuk dukungan terhadap peningkatan kapasitas mahasiswa dalam menghadapi transformasi dunia kerja dan perkembangan ekonomi digital.
Melalui seminar tersebut, Jamkrindo berharap semakin banyak generasi muda yang mampu mengembangkan potensi kewirausahaan, menciptakan peluang bisnis, serta memanfaatkan teknologi secara produktif dan bertanggung jawab.
Dengan bekal literasi digital, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi, mahasiswa diharapkan dapat menjadi entrepreneur muda yang mandiri, kompetitif, dan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat di era kecerdasan artifisial.(SAN)






