FACEINDONESIA.CO.ID- PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) terus memperkuat ekosistem bioenergi nasional dengan mengoptimalkan potensi biomassa Indonesia yang diperkirakan mencapai 83,4 juta ton per tahun. Langkah ini dilakukan melalui pengembangan rantai pasok dan diversifikasi produk bioenergi untuk mendukung ketahanan energi serta mempercepat transisi menuju energi rendah karbon.
Strategi tersebut disampaikan Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, dalam forum Biomass, Biochar, Biogas & SAF Asia Summit 2026 – Indonesia Focus di Novotel Jakarta Pulomas, Rabu (28/10/2026).
Dalam forum yang mempertemukan pemerintah, pelaku industri, investor, pengembang proyek, penyedia teknologi, dan pengguna energi tersebut, Hokkop memaparkan berbagai peluang pemanfaatan sumber daya organik Indonesia menjadi produk energi bernilai tambah.
PLN EPI tidak hanya mengembangkan biomassa untuk program cofiring di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), tetapi juga memperluas portofolio bioenergi ke produk biochar, syngas, Compressed Biomethane Gas (CBG), hingga biohidrogen.
“Indonesia memiliki potensi dan kebutuhan bioenergi yang besar. Karena itu, kita perlu memperluas kolaborasi untuk mengembangkan fasilitas produksi dan membangun ekosistem yang mampu menyalurkan biomassa kepada pembangkit. Bahkan, ketika kebutuhan pasar belum tersedia, kita juga memiliki peluang untuk menciptakan kebutuhan tersebut,” ujar Hokkop.
Berdasarkan pemetaan PLN EPI, potensi biomassa nasional mencapai sekitar 83,4 juta ton per tahun. Sumbernya berasal dari residu kelapa sawit, limbah kayu, sekam padi, residu pertanian, serta limbah agroindustri.
Sumatra menjadi wilayah dengan potensi terbesar, yakni sekitar 42,8 juta ton per tahun. Berikutnya Kalimantan sebesar 18,9 juta ton dan Jawa mencapai 13,1 juta ton. Potensi lainnya tersebar di Sulawesi, Papua, Maluku, Bali, dan Nusa Tenggara.
Namun, besarnya potensi tersebut harus didukung kesiapan infrastruktur, teknologi, rantai pasok, dan perhitungan keekonomian. Menurut Hokkop, jarak antara sumber bahan baku dan lokasi pembangkit menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan efisiensi biaya serta kesinambungan pasokan.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, PLN EPI mengembangkan jaringan fasilitas sub-hub, hub, dan main hub. Infrastruktur ini berfungsi mendukung pengumpulan bahan baku, pengolahan, penyimpanan, pengendalian kualitas, hingga distribusi biomassa kepada pembangkit dan pengguna industri.
Digitalisasi juga diterapkan guna meningkatkan transparansi, keterlacakan, serta efisiensi operasional dalam rantai pasok biomassa.
Hingga Juli 2026, pemanfaatan biomassa melalui program cofiring PLN Group telah menjangkau 52 PLTU. Program ini menjadi salah satu upaya mengurangi penggunaan batu bara secara bertahap melalui substitusi sebagian bahan bakar dengan biomassa sekaligus mendukung penurunan emisi sektor ketenagalistrikan.
Selain itu, PLN EPI terus mengembangkan pemanfaatan CBG sebagai alternatif bahan bakar gas. Pengembangan ini mempertimbangkan ketersediaan bahan baku organik di sekitar lokasi pengguna, teknologi pengolahan, jarak distribusi, dan aspek keekonomian.
“Untuk CBG, kita sudah membuktikan bahwa dengan mekanisme tertentu, biayanya bisa kompetitif dibandingkan CNG. Namun, sumber bahan baku harus dekat dan teknologi pengirimannya juga perlu diperhitungkan. Dengan mekanisme yang tepat, kita masih bisa menekan biaya agar mampu bersaing dengan sumber energi fosil,” jelas Hokkop.
Penguatan ekosistem bioenergi tersebut juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal. Koperasi, petani, badan usaha milik desa (BUMDes), serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dapat terlibat dalam penyediaan bahan baku, pengumpulan residu, pengolahan, hingga distribusi biomassa.
Dengan demikian, biomassa tidak hanya berperan sebagai sumber energi alternatif, tetapi juga dapat menciptakan lapangan usaha dan meningkatkan nilai tambah sumber daya di daerah.
PLN EPI menilai kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, penyedia teknologi, investor, masyarakat, dan pengguna akhir menjadi kunci pengembangan industri bioenergi nasional.
Melalui ekosistem bioenergi yang terintegrasi, PLN EPI mendorong pemanfaatan biomassa agar tidak sekadar menjadi limbah atau residu, tetapi dapat diolah menjadi sumber energi dan peluang ekonomi baru.
Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari langkah memperkuat ketahanan energi nasional dan mendukung percepatan transisi energi Indonesia menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.(ZID)






