FACEINDONESIA.CO.ID- Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia mendorong generasi muda menjadikan kebugaran dan industri olahraga sebagai peluang untuk memperkuat ekonomi nasional. Momentum Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026 dinilai menjadi kesempatan bagi anak muda untuk mengembangkan budaya hidup sehat sekaligus membangun usaha kreatif bernilai ekonomi tinggi.
Pengurus KADIN Indonesia Bidang Perencanaan Nasional yang membidangi Pemuda dan Olahraga, Gema Sasmita, mengatakan kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung ketahanan dan daya saing bangsa.
Menurutnya, aktivitas olahraga tidak seharusnya hanya menjadi kegiatan rekreasi, tetapi perlu menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari. Masyarakat yang sehat dan memiliki stamina baik akan lebih produktif dalam menghadapi tantangan ekonomi.
“Sumpah Pemuda 1928 adalah tonggak persatuan tekad menuju kedaulatan bangsa. Dalam lanskap ekonomi modern, semangat tersebut harus diwujudkan melalui produktivitas, ketahanan sistemik, dan kemandirian usaha,” ujar Gema di Menara KADIN Indonesia, Jakarta.
Gema juga menyoroti besarnya peluang bisnis dalam industri olahraga global. Mengacu pada laporan The Business Research Company dan Research and Markets, nilai pasar olahraga dunia telah mencapai 521,7 miliar dolar AS atau setara lebih dari Rp9.480 triliun berdasarkan kurs yang disebutkan dalam data tersebut.
Sementara itu, sektor wisata olahraga (sport tourism) dunia diproyeksikan memiliki nilai pasar lebih dari 712 miliar dolar AS atau sekitar Rp12.940 triliun.
Di tengah besarnya potensi tersebut, pasar industri olahraga domestik Indonesia masih tercatat di bawah Rp40 triliun. Padahal, Indonesia memiliki lebih dari 125 juta penduduk usia produktif yang dapat menjadi kekuatan utama pengembangan sektor ini.
Gema menilai generasi muda perlu mengubah peran dari sekadar konsumen menjadi pelaku utama industri olahraga, mulai dari produsen hingga pengembang ekosistem bisnis.
Ia mengidentifikasi tiga peluang usaha yang potensial dikembangkan anak muda, yakni manufaktur perlengkapan olahraga berkualitas ekspor, wisata olahraga berbasis pengalaman, serta teknologi olahraga dan infrastruktur digital.
Pada sektor manufaktur, peluang terbuka melalui produksi pakaian dan peralatan olahraga dengan memanfaatkan riset tekstil serta material ramah lingkungan. Sementara sport tourism dapat dikembangkan melalui kegiatan maraton, balap sepeda, dan olahraga bahari yang terintegrasi dengan pariwisata serta UMKM daerah.
Adapun sektor teknologi mencakup pengembangan analisis performa atlet berbasis kecerdasan buatan (AI), aplikasi reservasi fasilitas olahraga, perangkat pemantau kebugaran, hingga pengelolaan kompetisi esports profesional.
KADIN Indonesia juga terus mendorong integrasi olahraga ke dalam agenda pengembangan dunia usaha. Sejumlah inisiatif dilakukan melalui ekspansi Kadin Indonesia Golf Club (KIGC) yang melibatkan pelaku usaha dari 15 chapter daerah, serta dukungan terhadap perkembangan olahraga perkotaan seperti padel dan pembinaan federasi bela diri.
Gema menambahkan, KADIN melalui Bidang Perencanaan Nasional terus berkoordinasi dengan Kementerian PPN/Bappenas untuk menyelaraskan peta jalan industri olahraga dengan perencanaan pembangunan nasional jangka panjang.
“Kami memastikan ekosistem olahraga ditempatkan sebagai sektor produktif yang terstruktur dan terukur, bukan sekadar pelengkap,” tegasnya.
Ia berharap generasi muda mampu memanfaatkan peluang tersebut untuk membangun industri olahraga nasional yang mandiri, inovatif, dan memiliki daya saing di pasar internasional.






