FACEINDONESIA.CO.ID- Harga keekonomian Pertamax saat ini diperkirakan berada di kisaran Rp16.700 hingga Rp16.800 per liter. Meski demikian, harga jual Pertamax di Jakarta masih dipertahankan sebesar Rp15.950 per liter.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan, harga keekonomian BBM dipengaruhi sejumlah komponen, seperti harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, biaya distribusi dan penyimpanan, margin keuntungan, serta pajak.
Dengan harga jual yang masih berada di bawah harga keekonomian, terdapat selisih sekitar Rp750 hingga Rp900 per liter.
“Artinya, dengan harga Pertamax yang masih Rp15.950 per liter, ada selisih sekitar Rp750-Rp900 per liter yang secara ekonomi belum tecermin dalam harga jual,” kata Yusuf, Jumat (4/9/2026).
Menurut Yusuf, keputusan pemerintah dan Pertamina mempertahankan harga Pertamax pada awal September dapat dipahami sebagai langkah untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus kondisi sosial.
Meski Pertamax merupakan BBM nonsubsidi, selisih harga tersebut tetap menjadi beban dalam struktur keuangan Pertamina. Dalam jangka pendek, kondisi ini masih dapat dikelola, terlebih sejumlah produk BBM nonsubsidi lainnya telah mengalami penyesuaian harga.
Namun, apabila harga Pertamax terus berada di bawah harga keekonomian dalam jangka panjang, tekanan terhadap Pertamina dapat meningkat. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi margin, arus kas, laba, hingga ruang investasi perusahaan, terutama pada sektor hulu dan kilang.
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof Bonar Tua Halomoan Marbun menilai persoalan harga BBM juga berkaitan erat dengan produksi minyak nasional.
Ia menyebut produksi minyak domestik saat ini sekitar 580 ribu barel per hari, sedangkan kebutuhan nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Dengan demikian, terdapat defisit sekitar 1 juta barel per hari yang harus dipenuhi melalui impor.
“Produksi kita hanya sekitar 580 ribu barel per hari, sedangkan kebutuhan kita dari Sabang sampai Merauke adalah 1,6 juta barel,” ujar Bonar.
Menurut Bonar, kondisi tersebut membuat pemerintah dan Pertamina menghadapi tantangan ganda. Di satu sisi, biaya pengadaan minyak meningkat, sementara di sisi lain harga BBM perlu tetap dijaga agar terjangkau masyarakat.
Tekanan dapat semakin besar ketika harga minyak dunia naik dan situasi geopolitik global memengaruhi kepastian pasokan.
Bonar menilai kebijakan mempertahankan harga Pertamax masih dapat dipahami untuk mengamankan pasokan energi sekaligus menjaga daya beli masyarakat. Kebijakan tersebut juga berpotensi mencegah konsumen beralih ke Pertalite yang merupakan BBM bersubsidi.
Dengan produksi minyak dalam negeri yang masih terbatas, pemerintah dinilai masih berupaya meredam dampak kenaikan biaya energi terhadap masyarakat melalui kebijakan mempertahankan harga Pertamax.(ZID)






