FACEINDONESIA.CO.ID-Program Revitalisasi Satuan Pendidikan yang dilaksanakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tidak hanya menghadirkan ruang belajar yang lebih aman dan nyaman bagi peserta didik, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekitar. Melalui mekanisme swakelola, sekolah dapat menyesuaikan pembangunan sesuai kebutuhan masing-masing sekaligus menggerakkan perekonomian lokal dengan melibatkan warga sekitar sebagai tenaga kerja
Salah satu sekolah yang merasakan manfaat pendekatan tersebut adalah SMP Negeri 9 Pangkalpinang. Revitalisasi dilaksanakan melalui Tim Pembangunan Persiapan Satuan Pendidikan (P2SP) yang melibatkan unsur sekolah dan masyarakat.
Kepala SMP Negeri 9 Pangkalpinang, Ahmat Yamani, menjelaskan bahwa sekolah menerima bantuan revitalisasi senilai Rp2,6 miliar untuk merehabilitasi delapan ruang kelas beserta mebelernya, ruang administrasi, ruang komputer, membangun tiga paket toilet, serta merehabilitasi satu paket toilet.
“Kami membentuk tim P2SP yang melibatkan masyarakat sekitar untuk ketua, keamanan, hingga pelaksana teknis, serta didukung tim perencanaan yang memiliki keahlian di bidangnya. _Alhamdulillah_ dengan adanya kegiatan revitalisasi ini membantu juga untuk perekonomian masyarakat sekitar,” ujarnya.
Manfaat serupa juga dirasakan SLB Negeri Koba, Kabupaten Bangka Tengah. Sekolah tersebut memperoleh bantuan revitalisasi senilai Rp1,43 miliar yang dimanfaatkan untuk membangun enam ruang kelas baru, merehabilitasi tiga ruang kelas, aula, dan asrama yang sebelumnya mengalami kebocoran sehingga kerap tergenang saat hujan.
Kepala SLB Negeri Koba, Musdiyanto, mengatakan pembangunan melibatkan komite sekolah dan warga sekitar sebagai tenaga kerja. Menurutnya, selain meningkatkan kualitas layanan pendidikan, program tersebut juga memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat. “Program ini sangat berdampak pada perekonomian warga sekitar yang terlibat menjadi tukang karena mereka bisa bekerja dan memperoleh pendapatan dari proyek pembangunan sekolah ini,” katanya.
Revitalisasi tersebut juga mengatasi keterbatasan ruang belajar yang selama ini dihadapi sekolah. Sebelum memperoleh bantuan, sejumlah ruangan seperti musala, ruang tata boga, dan kantor guru terpaksa dialihfungsikan menjadi ruang kelas. “Kami merasa sangat terbantu. Anak-anak dan guru sekarang mempunyai ruang masing-masing sehingga pembelajaran lebih fokus dan nyaman,” tambahnya.
Sementara itu, TK Ayyas Kids Centre memperoleh bantuan berupa pembangunan ruang kelas baru beserta perabotannya, ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), dan toilet beserta fasilitas sanitasi. Sebelum revitalisasi, keterbatasan ruang membuat sebagian peserta didik harus belajar secara bergantian di teras maupun gazebo sekolah.
Kepala TK Ayyas Kids Centre, Santi, mengatakan pembangunan dilaksanakan selama empat bulan dengan melibatkan 13 pekerja yang seluruhnya berasal dari lingkungan sekitar sekolah. “Swakelola membuat kami bisa menyesuaikan pembangunan dengan kebutuhan sekolah. Anak-anak sangat senang, bahkan jumlah peminat yang mendaftar ke sekolah kami juga meningkat,” tuturnya.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, mengatakan bahwa Program Revitalisasi Satuan Pendidikan merupakan komitmen pemerintah untuk menghadirkan sarana dan prasarana pendidikan yang aman dan layak. “Kita semua memiliki pandangan yang sama bahwa kualitas pendidikan juga ditentukan oleh sarana dan prasarana yang baik dan mendukung,” ujar Mendikdasmen.
Menurutnya, pelaksanaan revitalisasi melalui skema swakelola dipilih karena memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk membangun sesuai kebutuhan nyata di lapangan sekaligus menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Melalui swakelola, sekolah mengelola pembangunan sendiri sehingga hasilnya lebih sesuai dengan kebutuhan. Skema ini lebih efisien, pelaksanaannya lebih cepat, sekaligus mampu menyerap tenaga kerja lokaldan menggerakkan perekonomian daerah karena kebutuhan tenaga kerja dan pembangunan dipenuhi dari daerah setempat.(ZID)






