PT Vale Percepat Hilirisasi Nikel di Sulawesi

FACEINDONESIA.CO.ID- PT Vale Indonesia Tbk mempercepat transformasi bisnis dari operasi berbasis satu lokasi menjadi platform pertambangan dan pengolahan nikel multiwilayah. Langkah ini dilakukan melalui pengembangan tiga proyek pertumbuhan terintegrasi atau Indonesia Growth Projects (IGP) di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara.

Head of Strategy and Business Development PT Vale Indonesia Tbk, Mateus Sigit Harisulistya, mengatakan transformasi tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat hilirisasi dan meningkatkan nilai tambah nikel di dalam negeri.

Bacaan Lainnya

“Selama puluhan tahun, PT Vale hanya beroperasi terintegrasi di Sorowako. Saat ini, kami mentransformasi diri menjadi platform multiwilayah,” ujar Sigit dalam sosialisasi MediaMIND 2026 bertema Hilirisasi Nikel dan Optimasi Nilai Tambah Dalam Negeri di Jakarta, Senin (14/9/2026).

Berdasarkan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), wilayah operasi PT Vale mencakup tiga lokasi strategis. Pertama, Blok Sorowako di Sulawesi Selatan yang menjadi basis operasi penambangan bijih nikel saprolit dan pengolahan nikel matte dengan teknologi pirometalurgi.

Untuk mengoptimalkan bijih limonit, PT Vale bersama mitra juga mengembangkan fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL).

Kedua, Blok Bahodopi di Morowali, Sulawesi Tengah. Perseroan telah memulai pembangunan tambang sejak 2023-2024 dan kini telah beroperasi. Bersama mitra melalui skema joint venture, dibangun pabrik HPAL untuk mengolah bijih limonit menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP).

Ketiga, Blok Pomalaa di Sulawesi Tenggara yang mengintegrasikan penambangan bijih saprolit dan limonit dengan pembangunan fasilitas HPAL berkapasitas besar bersama mitra.

Dalam pengembangan proyek tersebut, PT Vale memegang 100 persen investasi pada sektor hulu atau penambangan. Sementara investasi fasilitas pengolahan di sektor hilir dilakukan melalui skema joint venture dengan posisi sebagai pemegang saham minoritas yang signifikan.

Skema tersebut ditujukan untuk menjaga standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), sekaligus mempertahankan keberlanjutan dan izin sosial perusahaan untuk beroperasi.

Pada IGP Morowali, investasi diproyeksikan sekitar 1,9 miliar dolar AS untuk fasilitas tambang dan pabrik HPAL bersama GEM dan EcoPro. Proyek ini menargetkan first mechanical completion pada akhir 2026 dan full mechanical completion pada kuartal pertama 2027.

Sementara IGP Pomalaa memiliki nilai investasi sekitar 3,2 miliar dolar AS melalui kemitraan dengan Huayou dan Ford. Adapun IGP Sorowako diperkirakan membutuhkan investasi sekitar 2,1 miliar dolar AS bersama Huayou dan ditargetkan beroperasi penuh pada 2028.

PT Vale saat ini berfokus pada pengolahan intermediate untuk menghasilkan MHP. Perseroan juga mengkaji pengembangan produk turunan seperti prekursor dan katoda bersama mitra serta kementerian terkait.

Teknologi HPAL dinilai penting karena memungkinkan pemanfaatan bijih nikel limonit berkadar rendah yang sebelumnya kerap dianggap sebagai tanah penutup atau limbah. Teknologi tersebut juga dinilai memiliki intensitas modal dan emisi karbon lebih rendah serta tingkat pemulihan mineral yang tinggi.

Meski demikian, pengelolaan tailing menjadi salah satu tantangan utama dalam penerapan teknologi HPAL. Karena itu, PT Vale memastikan proyek HPAL bersama mitra memenuhi standar lingkungan internasional sejak tahap rekayasa hingga operasional.

“Proyek hilirisasi PT Vale bukan sekadar program jangka pendek, melainkan komitmen jangka panjang. Ini akan memberikan nilai tambah tinggi bagi industri baterai dan kendaraan listrik nasional,” kata Sigit.

Perkuat Ekosistem Baterai

Pengembangan hilirisasi nikel juga mendapat dukungan dari sektor hilir. Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC), Aditya F. Arif, mengatakan IBC terus memperkuat rantai pasok midstream hingga downstream baterai kendaraan listrik melalui kolaborasi dengan mitra global, termasuk CATL.

Di sektor downstream, IBC memiliki kepemilikan saham 30 persen bersama CATL. Pabrik tersebut telah beroperasi sejak Juli dengan kapasitas awal 6,9 gigawatt hour (GWh) dan akan dikembangkan hingga 15 GWh.

Aditya menilai penerapan standar ESG dan integrasi rantai pasok mulai dari pertambangan nikel hingga produksi sel baterai serta Battery Energy Storage System (BESS) menjadi faktor penting agar produk Indonesia mampu bersaing di pasar global.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, mengatakan investasi hilirisasi nikel telah mendorong pertumbuhan ekonomi di sejumlah wilayah Sulawesi.

Namun, menurutnya, pemerintah dan industri perlu memastikan manfaat hilirisasi dirasakan masyarakat lokal. Keberhasilan hilirisasi tidak cukup diukur dari besarnya investasi dan volume ekspor produk intermediate, tetapi juga dari penciptaan lapangan kerja yang aman, transfer teknologi, serta keterlibatan UMKM daerah.

Dengan demikian, hilirisasi nikel diharapkan mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.(DRI)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *