FACEINDONESIA.CO.ID- PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menyiapkan pengembangan teknologi co-firing amonia sebagai salah satu upaya mengurangi emisi karbon dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Uji coba skala kecil ditargetkan berlangsung di PLTU Labuan pada 2027 dengan tingkat pencampuran amonia hingga 3 persen.
Rencana tersebut merupakan bagian dari peta jalan pengembangan hidrogen dan amonia PLN EPI yang dipaparkan dalam ajang Electricity Connect 2026. Pengembangan dilakukan secara bertahap hingga 2030 untuk menguji kesiapan teknologi, keekonomian, serta ketersediaan rantai pasok.
Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, mengatakan pemanfaatan amonia menjadi salah satu opsi bahan bakar rendah karbon untuk pembangkit yang sudah beroperasi. Namun, penerapannya membutuhkan kajian menyeluruh, terutama terkait teknologi, pasokan, dan biaya.
“Kami sedang melakukan kajian, termasuk dari sisi pasokan dan teknologi. Kita perlu mulai dari pilot project untuk melihat aspek teknis sekaligus keekonomiannya,” ujar Hokkop dalam diskusi panel bertajuk Fuel Switching and Co-firing: The Way Forward for Emissions Reduction in Thermal di Jakarta.
Dalam peta jalan tersebut, PLN EPI memulai studi pasokan amonia pada 2026 dengan Pupuk Kujang Cikampek sebagai salah satu sumber yang dikaji.
Selanjutnya, uji coba pencampuran amonia maksimal 3 persen direncanakan berlangsung di PLTU Labuan pada 2027. Hasil pengujian akan menjadi dasar evaluasi teknis dan studi keekonomian pada 2028.
Pada 2029, PLN EPI menargetkan pengembangan integrasi rantai pasok amonia. Sementara itu, pada 2030 perusahaan akan mengkaji kelayakan penerapan co-firing sekitar 3–5 persen atau lebih.
Menurut Hokkop, pengembangan teknologi ini menghadapi tantangan berbeda dibandingkan penggunaan bahan bakar konvensional. Selain kemampuan pembangkit menerima campuran amonia, faktor harga dan ketersediaan pasokan juga menentukan kelayakan penerapannya.
“Untuk saat ini, harganya masih menjadi tantangan. Karena itu, kita perlu melakukan pilot terlebih dahulu, belajar dari sana, kemudian melihat bagaimana teknologi dan keekonomiannya berkembang,” katanya.
Amonia saat ini telah memiliki pasar yang besar, terutama untuk memenuhi kebutuhan industri pupuk. Karena itu, pemanfaatannya untuk pembangkit listrik perlu mempertimbangkan keseimbangan pasokan antarsektor, kesiapan infrastruktur, dan kelancaran distribusi.
PLN EPI juga mengkaji perkembangan harga, pilihan produksi dan pengadaan, serta kepastian volume pasokan agar pemanfaatan amonia dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Dalam diskusi Electricity Connect 2026, turut dibahas potensi penerapan co-firing amonia dengan persentase lebih tinggi pada konfigurasi pembangkit tertentu.
Salah satu contoh yang dipaparkan adalah PLTU Jawa 9 dan 10 dengan kapasitas masing-masing 1.000 megawatt (MW). Berdasarkan kajian yang disampaikan dalam forum, pembangkit tersebut berpotensi mendukung co-firing amonia hingga 60 persen dengan modifikasi tertentu.
Meski demikian, potensi tersebut berlaku untuk konfigurasi teknologi pembangkit tertentu dan bukan merupakan target penerapan PLN EPI pada seluruh PLTU.
Penggunaan amonia juga perlu memperhatikan pengendalian emisi nitrogen oksida (NOx). Keberadaan teknologi Selective Catalytic Reduction (SCR) menjadi salah satu aspek penting dalam pengendalian emisi tersebut.
PLN EPI menegaskan pengembangan amonia akan dilakukan secara bertahap, dimulai dari uji coba skala kecil untuk memperoleh data teknis dan keekonomian sebelum memasuki tahap berikutnya.
Pengembangan hidrogen dan amonia menjadi bagian dari agenda jangka panjang PLN Group untuk mendukung target Net Zero Emissions (NZE) 2060.
Selain mengembangkan bahan bakar rendah karbon, upaya transisi energi juga mencakup pemanfaatan biomassa melalui co-firing dan peningkatan efisiensi pembangkit. Seluruh tahapan tersebut perlu mempertimbangkan kondisi sistem ketenagalistrikan serta menjaga keandalan pasokan listrik nasional.(ZID)






