Perpusnas Bawa Gagasan Indonesia ke Forum IFLA WLIC 2026

FACEINDONESIA.CO.ID- Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) membawa perspektif Indonesia dalam forum perpustakaan dunia melalui keikutsertaan empat pegawainya pada IFLA World Library and Information Congress (WLIC) 2026 di Busan dan IFLA Satellite Meeting di Seoul, Korea Selatan.

Empat pegawai Perpusnas, yakni Irhamni Ali, Suci Indrawati Irwan, Sadariyah Ariningrum Wijiastuti, dan Yaya Ofia Mabruri, mempresentasikan berbagai gagasan terkait kecerdasan artifisial (AI), keterbukaan pengetahuan, budaya populer, literasi masyarakat, hingga penguatan kemampuan berpikir kritis di era AI.

Bacaan Lainnya

IFLA WLIC 2026 berlangsung pada 10–13 Agustus 2026 dengan tema Libraries Powering Transformation. Kongres ke-90 International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA) tersebut menghadirkan lebih dari 200 sesi dan mempertemukan 3.191 delegasi dari 111 negara dan teritori.

Dari 10 peserta Indonesia yang mengikuti rangkaian WLIC 2026, lima di antaranya tampil sebagai presenter. Empat presenter tersebut merupakan pegawai Perpusnas.

Kepala Perpusnas Prof. E. Aminudin Aziz mengapresiasi partisipasi pegawai Perpusnas yang membawa pengalaman dan gagasan Indonesia ke forum internasional.

Menurutnya, keikutsertaan dalam forum global bukan hanya untuk meningkatkan kapasitas individu, tetapi juga harus memberikan manfaat bagi institusi dan masyarakat.

“Kami mendukung pegawai Perpusnas untuk terus meningkatkan kapasitas, membangun jejaring, dan berpartisipasi dalam forum internasional. Pengetahuan, pengalaman, serta jejaring yang diperoleh harus dibawa pulang dan diterjemahkan menjadi gagasan maupun praktik yang relevan untuk memperkuat perpustakaan dan budaya literasi di Indonesia,” ujar Prof. Amin.

Ia menilai Indonesia memiliki berbagai pengalaman dan praktik baik yang dapat menjadi bagian dari pertukaran pengetahuan global.

Salah satu gagasan disampaikan Sadariyah Ariningrum Wijiastuti, pustakawan Perpusnas yang terpilih sebagai salah satu dari 16 peserta IFLA Emerging Leaders 2026.

Ariningrum tampil dalam tiga sesi dengan mengangkat budaya populer sebagai pintu masuk literasi, dampak perpustakaan bagi masyarakat, serta model Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA).

Melalui makalah Manga and Libraries: Bridging Popular Culture and Literacy Institutions in Indonesia, Ariningrum membahas potensi manga dalam mendekatkan generasi muda dengan perpustakaan.

Ia juga memperkenalkan program RELIMA yang berkembang dari 180 relawan di 177 kabupaten/kota pada 35 provinsi pada 2025 menjadi 360 relawan di 321 kabupaten/kota pada 2026.

Sementara itu, Yaya Ofia Mabruri, penerima Angela Bersekowski Grant pada IFLA WLIC 2026, membawa perspektif mengenai literasi di tengah perkembangan AI.

Melalui pengalaman Gerakan Indonesia Membaca #Sepekan1Buku, Yaya menekankan pentingnya kolaborasi antara perpustakaan, sekolah, pendidik, keluarga, dan komunitas untuk membangun kebiasaan membaca serta menjaga kemampuan berpikir kritis dan orisinalitas.

“AI memang banyak membantu, tetapi jangan sampai kemudahan itu membuat kita jadi malas membaca, berpikir kritis, atau menghasilkan gagasan sendiri,” ujar Yaya.

Gagasan lainnya disampaikan Suci Indrawati Irwan melalui sesi The Transformative Power of Diamond Open Access: Building Knowledge as a Global Good. Ia mempresentasikan kajian mengenai tantangan infrastruktur terbuka dalam komunikasi ilmiah berbasis repositori.

Menurut Suci, repositori tidak cukup hanya menjadi tempat penyimpanan hasil penelitian. Infrastruktur tersebut harus mampu membuat pengetahuan mudah ditemukan, diakses, digunakan kembali, dan dipertukarkan.

Adapun Irhamni Ali berkontribusi dalam IFLA Satellite Meeting di Seoul pada 14 Agustus 2026 melalui topik pemanfaatan pendekatan AI untuk memantau kinerja perpustakaan publik.

Irhamni menekankan bahwa data perpustakaan harus dapat dimanfaatkan untuk membaca pola, memahami kondisi, dan membantu pengambilan keputusan.

“Data perpustakaan jangan hanya berhenti menjadi angka di dalam laporan. Dengan bantuan AI, data itu bisa kita olah untuk melihat pola, memahami kondisi, dan membantu menentukan langkah yang perlu dilakukan,” katanya.

Selain presentasi dan diskusi, rangkaian kegiatan WLIC 2026 juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk melihat praktik perpustakaan di Korea Selatan melalui Library Visits Tour.

Keikutsertaan empat pegawai Perpusnas menunjukkan bahwa transformasi perpustakaan tidak hanya berkaitan dengan digitalisasi dan AI, tetapi juga menyangkut penguatan manusia, komunitas, budaya baca, keterbukaan pengetahuan, pengelolaan data, serta kemampuan perpustakaan merespons kebutuhan masyarakat.

Melalui forum IFLA WLIC 2026, Perpusnas tidak hanya menyerap pengetahuan dan praktik baik dari berbagai negara, tetapi juga memperkenalkan pengalaman Indonesia kepada dunia untuk memperkuat transformasi perpustakaan dan budaya literasi nasional.(ZID)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *