Penyuluh Agama Islam di Karawang Didorong Perkuat Ketahanan Pangan dan Keluarga

Dok.Kemenag

FACEINDONESIA.CO.ID – Direktur Penerangan Agama Islam Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama RI, Muchlis M. Hanafi, mendorong para penyuluh agama Islam untuk mengambil peran strategis dan konkret dalam memperkuat ketahanan pangan dan ketahanan keluarga di tengah dinamika sosial yang terus berkembang.

Ajakan tersebut disampaikan saat membuka Implementasi Regulasi Kepenyuluhan yang diikuti 195 penyuluh agama Islam se-Kabupaten Karawang, Rabu (15/4/2026), di Aula Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an Karawang.

Bacaan Lainnya

Turut hadir, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karawang, Sopiyan, Kabid Penerangan Agama Islam, Zakat dan Wakaf Kanwil Kemenag Jawa Barat, Jajang Apipudin, serta Kasubdit Bina Penyuluh Agama Islam Ditjen Bimas Islam, Jamaluddin Markih.

“Di tengah berbagai keterbatasan, para penyuluh tidak hanya menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga menjadi penjaga arah kehidupan umat,” ujar Muchlis M Hanafi.

Menurutnya, Karawang memiliki karakter sosial yang khas sebagai wilayah pertemuan antara tradisi dan modernitas, antara desa agraris dan kawasan industri. Kondisi ini menuntut kehadiran penyuluh yang adaptif sekaligus responsif.

“Karawang bukan wilayah biasa. Ia adalah ruang pertemuan nilai lama dan gelombang modernitas. Di titik itulah peran penyuluh menjadi sangat strategis,” tambahnya.

Sebagai daerah lumbung padi nasional, Muchlis mendorong para penyuluh untuk terlibat aktif dalam pendampingan masyarakat, khususnya petani, guna meningkatkan produktivitas pertanian sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan. Upaya tersebut merupakan bagian dari pendekatan ekoteologi, yakni keterlibatan nilai-nilai agama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan ketahanan kehidupan manusia.

Lebih lanjut, Muchlis mengingatkan tingginya angka susut dan sisa pangan (food loss and waste) yang masih menjadi tantangan global. Berdasarkan Food Waste Index Report 2024 dari United Nations Environment Programme, sekitar 1,05 miliar ton makanan terbuang setiap tahun, atau setara dengan 132 kilogram per orang. Sekitar 60 persen pemborosan tersebut terjadi di tingkat rumah tangga.

“Ketika makanan dibuang, yang hilang bukan hanya nilai ekonomi, tetapi juga masa depan ekologis kita. Ini menjadi ruang dakwah baru bagi para penyuluh,” tegasnya.

Selain isu pangan, Muchlis juga menyoroti pentingnya penguatan ketahanan keluarga. Ia mencatat bahwa angka perceraian di Kabupaten Karawang pada tahun 2024 mencapai 5.013 kasus. Kondisi ini diperparah oleh banyaknya pasangan usia muda yang bekerja di luar negeri, sehingga rentan melemahkan struktur keluarga.

“Ketahanan keluarga harus menjadi perhatian serius. Penyuluh memiliki peran penting dalam menjaga keutuhan dan kualitas kehidupan keluarga,” katanya.

Muchlis lalu menguraikan tiga tantangan utama yang dihadapi penyuluh saat ini. Pertama, kompetisi otoritas keagamaan di era digital. Menurutnya, masyarakat kini tidak hanya merujuk pada penyuluh, tetapi juga pada berbagai platform media sosial. Karena itu, penyuluh perlu hadir dan mengisi ruang publik dengan konten yang menyejukkan dan mencerahkan.

“Di era post-truth, kebenaran sering kali ditentukan oleh siapa yang menguasai ruang publik. Jika penyuluh tidak meningkatkan kapasitas, maka otoritas keagamaan bisa berpindah—bukan kepada yang paling benar, tetapi kepada yang paling menarik,” ujarnya.

Kedua, perubahan karakter masyarakat yang lebih menyukai pendekatan dialogis daripada pola komunikasi satu arah. Ketiga, meningkatnya fragmentasi sosial. Polarisasi, perbedaan pandangan, hingga konflik sosial di tingkat akar rumput membutuhkan kehadiran penyuluh sebagai penyejuk sekaligus perekat sosial.

Muchlis lalu menegaskan makna filosofis penyuluh sebagai “suluh” atau cahaya. “Cahaya itu menerangi, bukan menghakimi; menghangatkan, bukan membakar; serta menuntun jalan, bukan memaksa arah,” pungkasnya. (San)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *