FACEINDONESIA.CO.ID- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui SEAMEO RECFON (Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Food and Nutrition) memasuki satu dekade pelaksanaan program Nutrition Goes to School (NGTS). Program ini mendorong pendidikan gizi tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi diterapkan melalui praktik nyata hingga menjadi kebiasaan di lingkungan sekolah.
Pendidikan gizi melalui NGTS diwujudkan dalam berbagai kegiatan yang dekat dengan kehidupan peserta didik, seperti kebun sekolah, kantin sehat, pembiasaan praktik gizi baik, hingga edukasi gizi. Dengan pengalaman langsung tersebut, pemahaman mengenai gizi diharapkan dapat menjadi kebiasaan yang diterapkan anak dalam kehidupan sehari-hari.
Selama 10 tahun pelaksanaannya, NGTS telah memberikan pelatihan gizi dan kesehatan kepada lebih dari 3.500 guru dan tenaga kependidikan dari 2.430 sekolah. Sebanyak 279 sekolah dan madrasah juga telah memperoleh pendampingan teknis di Indonesia maupun Asia Tenggara. Selain itu, program ini berhasil membentuk 42 Model Sekolah/Madrasah NGTS Mandiri di tujuh wilayah dampingan Indonesia.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, mengatakan persoalan gizi anak di Indonesia perlu direspons dengan menjadikan sekolah sebagai agen perubahan.
“Yang paling penting dalam konteks Indonesia saat ini adalah tidak hanya kekurangan gizi pada anak-anak, ada juga yang berlebih, dan sekaligus ada tantangan terkait kekurangan gizi mikro. Jadi, ini bagian penting yang ingin kita respons melalui sekolah sebagai agen perubahan,” ujar Tatang di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta, pada perayaan 10 tahun Program NGTS, 23 Agustus 2026.
Menurut Tatang, sekolah memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran dan kebiasaan gizi yang baik melalui kegiatan yang dekat dengan keseharian peserta didik.
Dengan program tersebut, diharapkan terjadi perubahan dalam pemenuhan gizi anak agar tidak berlebihan maupun kekurangan, sekaligus memenuhi kebutuhan gizi mikro.
“Harapannya anak-anak lebih aware, lebih paham terkait gizi, dan selanjutnya juga bagaimana mempraktikkannya dalam keseharian,” katanya.
Salah satu penerapan NGTS dilakukan di SMA Negeri 1 Singosari, Jawa Timur. Guru Biologi sekaligus tim NGTS, Zainal Fanani, mengatakan sekolah mengintegrasikan pendidikan gizi melalui kantin sehat, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), edukasi gizi, kebun sekolah, hingga kegiatan kewirausahaan.
“Implementasi NGTS yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Singosari meliputi kantin sehat, pembiasaan praktik gizi baik, edukasi gizi, kebun sekolah, serta kewirausahaan,” ujar Zainal dalam kegiatan 10 tahun NGTS.
Melalui kebun sekolah, peserta didik tidak hanya mengenal berbagai tanaman, tetapi juga belajar mengolah hasil panen. Sekolah juga membangun kebiasaan hidup sehat melalui kegiatan senam setiap Jumat. Sementara itu, kantin sekolah berhasil meraih penghargaan sebagai kantin sehat nasional juara dua regional barat.
Kepala SMA Negeri 1 Singosari, Sri Endang Hidajati, menilai keberhasilan pendidikan gizi tidak cukup hanya dilihat dari pemahaman siswa di sekolah. Kebiasaan baik tersebut perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan lingkungan keluarga dengan melibatkan orang tua.
“Harapan saya, edukasi gizi kepada murid-murid SMA Negeri 1 Singosari tidak hanya terbatas di ruang sekolah, tetapi juga bisa diimplementasikan di mana pun anak-anak berada, termasuk bekerja sama dengan orang tua,” ujarnya.
Direktur SEAMEO RECFON, Rini Sekartini, mengatakan NGTS tidak sekadar memberikan edukasi mengenai gizi, tetapi juga mendorong sekolah menghasilkan praktik baik yang dapat dilakukan secara rutin.
“Programnya intinya adalah gizi pada anak sekolah, bukan hanya edukasi, tetapi juga praktik baik yang bisa dilakukan, terutama oleh sekolah,” ujar Rini.
Menurut Rini, guru dan kepala sekolah menjadi penggerak utama program karena sekolah merupakan motor pelaksanaan NGTS. Praktik yang diterapkan pun beragam, mulai dari kebun hingga peternakan yang hasilnya dapat dimanfaatkan untuk mendukung asupan nutrisi peserta didik.
“Jadi, semuanya bervariasi, bukan hanya edukasi tetapi juga implementasi. Seperti ada yang membuat kebun, kemudian ada peternakan yang hasilnya bisa digunakan oleh anak-anak untuk mendapatkan asupan nutrisi yang baik,” tuturnya.
Rini menegaskan, gizi merupakan fondasi penting bagi tumbuh kembang anak sekaligus investasi bagi masa depan Indonesia.
“Gizi itulah pondasi utama untuk tumbuh kembang anak dan menjadi investasi untuk masa depan, supaya anaknya sehat, kreatif, dan juga memiliki jiwa besar untuk memajukan Indonesia nantinya,” ujarnya.
Memasuki dekade kedua, kolaborasi Kemendikdasmen melalui SEAMEO RECFON diharapkan semakin memperkuat peran sekolah sebagai agen perubahan dalam membangun kebiasaan hidup sehat.
Program NGTS juga diharapkan dapat memperluas praktik baik di Indonesia sekaligus menjadi ruang berbagi pengalaman dengan negara-negara Asia Tenggara. Dengan demikian, pendidikan gizi dan kesehatan berbasis sekolah dapat terus berkembang serta menjadi bagian dari budaya sekolah yang berkelanjutan.(ZID)






