FACEINDONESIA.CO.ID- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperluas akses pengembangan kompetensi guru melalui Pelatihan Mandiri dan Diklat Bauran Pembelajaran Mendalam serta Koding dan Kecerdasan Artifisial (PMKKA).
Program ini disosialisasikan melalui webinar yang diikuti guru SMA, SMK, dan SLB, kepala sekolah, pengawas, penanggung jawab PMKKA pada BBGTK, BGTK, dan KGTK, serta pengelola program di dinas pendidikan.
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendikdasmen Nunuk Suryani mengatakan, PMKKA menjadi bagian dari upaya memperkuat kompetensi guru agar mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih mendalam, bermakna, dan relevan dengan perkembangan zaman.
“Melalui PMKKA, kami ingin mendorong guru tidak hanya menguasai materi, tetapi mampu menerjemahkannya menjadi praktik pembelajaran yang nyata dan bermakna di kelas,” ujar Nunuk.
Ia berharap sosialisasi tersebut menjadi langkah awal bagi guru untuk mengakses, memahami, dan menerapkan PMKKA di sekolah masing-masing. Praktik baik yang diperoleh juga diharapkan dapat dibagikan melalui kelompok kerja dan komunitas belajar guru.
Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Arif Jamali menjelaskan, Pelatihan Mandiri dan Diklat Bauran memberikan kesempatan belajar lebih luas bagi guru, terutama mereka yang belum terjangkau pelatihan tatap muka.
Menurut Arif, pengembangan kompetensi tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Hasil pembelajaran perlu diterapkan dalam praktik mengajar di kelas dengan dukungan dinas pendidikan, satuan pendidikan, UPT, dan komunitas guru.
Sementara itu, Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah bidang STEM dan Kompetensi Guru Maila Dania Husni Rahiem menyampaikan penguatan substansi PMKKA dengan pesan “Murid Lebih Paham, Guru Berdaya.”
Maila menjelaskan, Pembelajaran Mendalam bukan sekadar perubahan metode mengajar, tetapi pendekatan untuk menciptakan pengalaman belajar yang membantu murid memahami materi, menghubungkannya dengan kehidupan, serta menggunakan pengetahuan untuk berpikir dan memecahkan masalah.
Pembelajaran Mendalam memiliki tiga karakteristik utama, yakni berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Pendekatan ini diharapkan membuat murid tidak hanya mengingat informasi, tetapi memahami dan mampu menerapkannya.
Dalam pembelajaran berbasis teknologi, Koding dapat membantu mengembangkan kemampuan berpikir komputasional, logis, sistematis, dan kreatif. Sementara Kecerdasan Artifisial dapat dimanfaatkan untuk memperkaya pembelajaran dengan tetap memperhatikan kemampuan berpikir kritis, etika, dan tanggung jawab.
“Semakin mudah teknologi digunakan, semakin penting kemampuan berpikir kritis. Guru tetap memiliki peran penting untuk mendampingi murid agar mampu menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab,” kata Maila.
Pada kesempatan yang sama, Yoki Ariyana dari BBGTK Jawa Barat menjelaskan teknis Pelatihan Mandiri dan Diklat Bauran PMKKA.
Pelatihan Mandiri memberikan kesempatan kepada guru untuk belajar secara fleksibel melalui Rumah Pendidikan. Peserta mempelajari topik dan modul, mengikuti latihan pemahaman, menulis refleksi, kemudian mengerjakan post-test.
Sedangkan Diklat Bauran ditujukan bagi pengajar Pembelajaran Mendalam serta Koding dan Kecerdasan Artifisial tahun 2025 serta peserta yang telah menyelesaikan Pelatihan Mandiri. Pembelajaran dilakukan dengan memadukan kegiatan mandiri dan kolaboratif.
Kemendikdasmen berharap perluasan akses PMKKA dapat mendorong semakin banyak guru SMA, SMK, dan SLB meningkatkan kompetensinya serta menerapkan hasil pelatihan dalam pembelajaran di sekolah.
Dengan guru yang terus belajar dan berkembang, proses pembelajaran diharapkan semakin relevan, bermakna, dan membantu murid menghadapi tantangan masa depan.(ZID)






