FACEINDONESIA.CO.ID- Hasil PISA 2025 tidak hanya menunjukkan capaian akademik murid Indonesia, tetapi juga menemukan potensi positif yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran. Sebanyak 80 persen murid Indonesia menyatakan ingin tahu tentang banyak hal, lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) sebesar 73 persen.
Temuan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Seminar Hasil PISA Indonesia Tahun 2025 yang diselenggarakan Pusat Asesmen Pendidikan, Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), di Jakarta, Selasa (15/9).
Kepala BKPDM Toni Toharudin mengatakan, kenaikan kemampuan membaca dan sains patut diapresiasi. Sementara itu, penurunan kemampuan matematika menjadi perhatian yang perlu ditindaklanjuti melalui kebijakan yang tepat.
“Pada tahun 2025, perlu kita tempatkan bukan sekadar sebagai laporan capaian, melainkan sebagai dasar untuk memperbaiki dan juga mempercepat peningkatan mutu pendidikan kita,” ujar Toni.
Menurutnya, salah satu arah kebijakan adalah meningkatkan kualitas pembelajaran di ruang kelas, terutama kemampuan bernalar, memecahkan masalah, dan menerapkan pengetahuan dalam konteks nyata.
Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD Andreas Schleicher menyampaikan bahwa kuatnya rasa ingin tahu menjadi salah satu temuan positif PISA 2025 di Indonesia. Dalam indeks yang digunakan OECD, rata-rata negara anggota OECD berada pada angka 5, sedangkan Indonesia mencapai 9.
Selain itu, 74 persen murid Indonesia menyatakan berupaya lebih keras ketika menghadapi pekerjaan yang menantang, dibandingkan rata-rata OECD sebesar 60 persen. Dibandingkan 2022, proporsi murid yang ingin tahu tentang banyak hal meningkat 7,3 poin persentase, sedangkan murid yang berupaya lebih keras menghadapi tantangan naik 7,2 poin persentase.
Perwakilan Dewan Pendidikan Nasional Ali Saukah menilai rasa ingin tahu tersebut merupakan potensi yang perlu dikembangkan melalui proses pembelajaran. Ia menyebutnya sebagai modal sosial yang dapat menjadi sumber optimisme.
Guru Besar Institut Teknologi Bandung Edy Tri Baskoro menilai pembelajaran matematika perlu memberikan ruang bagi murid untuk berpikir, bernalar, mencoba berbagai cara penyelesaian, menyampaikan alasan, dan melakukan refleksi.
Ia juga mendorong penerapan konsep “one reasoning problem every day” atau satu soal bernalar setiap hari. Dengan sekitar 200 hari belajar dalam setahun, selama sembilan tahun murid berpotensi memperoleh sekitar 1.800 pengalaman bernalar.
Sementara itu, Diana Rochintaniawati dari Universitas Pendidikan Indonesia mengatakan kekuatan guru Indonesia yang dinilai helpful perlu diarahkan pada pembelajaran berbasis inquiry atau penyelidikan.
PISA 2025 mencatat 82 persen murid Indonesia menilai guru menunjukkan perhatian terhadap pembelajaran mereka dalam sebagian besar pelajaran sains. Sebanyak 85 persen juga mengatakan guru terus mengajar sampai mereka memahami materi.
Melalui inquiry, murid didorong untuk menemukan, menguji, merefleksikan, serta menyampaikan argumentasi berdasarkan bukti.
Sri Rezki Widuri dari INOVASI mengatakan Pembelajaran Mendalam dapat membawa proses belajar melampaui tahap memahami. Pendekatan ini mendorong murid untuk menerapkan, mengevaluasi, merefleksikan, dan mentransfer pengetahuan atau keterampilan ke konteks baru.
Dalam bidang literasi, kemampuan membaca juga diarahkan menjadi reading to learn, sehingga kegiatan membaca berjalan seiring dengan kemampuan berpikir.
Dukungan keluarga juga menjadi bagian penting. Murni Leo dari Tanoto Foundation menyampaikan, survei Tanoto Foundation dan J-PAL pada 2025 terhadap 8.060 orang tua di 17 kabupaten/kota pada lima provinsi menunjukkan 92 persen orang tua menganggap keterlibatan dalam pendidikan anak penting.
Sebanyak 68 persen orang tua juga ikut membantu anak mengerjakan tugas, dengan rata-rata waktu pendampingan pendidikan anak mencapai 104 menit per hari.
Rangkaian temuan PISA 2025 tersebut menunjukkan rasa ingin tahu murid Indonesia dapat dikembangkan menjadi kemampuan belajar yang lebih mendalam. Melalui Pembelajaran Mendalam, rasa ingin tahu dapat diarahkan menjadi kebiasaan bertanya, bernalar, memecahkan masalah, merefleksikan pengalaman, serta menerapkan pengetahuan dalam situasi baru.(ZID)






