Kemendikdasmen-BNPT Perkuat Pencegahan Ekstremisme di Sekolah

FACEINDONESIA.CO.ID- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memperkuat upaya pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme di satuan pendidikan.

Langkah tersebut dilakukan melalui kegiatan Penguatan Peran Komite Sekolah, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan dalam Pencegahan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme di Satuan Pendidikan di Jakarta, Rabu (2/9).

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, kolaborasi tersebut penting untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman sehingga anak dapat tumbuh serta belajar dengan baik.

“Forum ini menjadi sangat penting untuk melakukan langkah bersama, gerakan bersama, menciptakan lingkungan yang aman dan lingkungan yang memungkinkan anak-anak kita dapat tumbuh dengan gembira dalam mencapai cita-cita,” ujar Abdul Mu’ti.

Menurutnya, upaya tersebut sejalan dengan kebijakan Presiden dalam membangun budaya ASRI, yakni Aman, Sehat, Resik, dan Indah. Kemendikdasmen juga terus mendorong budaya sekolah yang aman dan nyaman melalui pendekatan humanis, inklusif, dan partisipatif.

Abdul Mu’ti menekankan pentingnya sinergi empat pusat pendidikan, yakni sekolah, keluarga, masyarakat, dan media. Keempatnya memiliki peran dalam mendampingi anak, terutama ketika mereka berada pada fase membangun identitas dan mencari ruang untuk berekspresi.

Dalam lingkungan keluarga, hubungan orang tua dan anak menjadi salah satu faktor penting dalam pencegahan ekstremisme. Karena itu, keluarga tidak hanya berperan dalam mendidik, tetapi juga membimbing dan membangun relasi yang harmonis dengan anak.

Upaya tersebut juga dikaitkan dengan Program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, khususnya kebiasaan bermasyarakat. Anak perlu mendapatkan ruang untuk berinteraksi dan berekspresi secara positif melalui kegiatan yang edukatif, produktif, serta sesuai dengan bakat dan minat mereka.

“Kita mendampingi mereka karena suasana aman, perasaan terlindungi, dan rasa di mana mereka mendapatkan pengakuan itu menjadi modal dan bekal yang penting untuk kita mendidik anak-anak kita menjadi generasi Indonesia yang hebat, generasi Indonesia yang kuat,” kata Abdul Mu’ti.

Sementara itu, Kepala BNPT Eddy Hartono menyampaikan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN PE), sebagaimana ditetapkan melalui Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2026.

Eddy mengatakan, pencegahan semakin penting mengingat adanya paparan paham kekerasan dan radikalisme terhadap anak. Berdasarkan data aparat penegak hukum, sejak Januari hingga 26 Agustus 2026 terdapat 620 anak yang masuk kategori terpapar paham kekerasan maupun radikalisme.

Paparan tersebut antara lain terjadi melalui ruang digital, seperti media sosial, podcast, forum, dan berbagai platform lainnya.

Setelah deklarasi komitmen bersama, BNPT akan melakukan intervensi di 38 provinsi sebagai bagian dari upaya memperluas pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan di lingkungan pendidikan.

“Hari ini kita hadir, kita sama-sama membuat komitmen. Nanti setelah komitmen deklarasi ini, kami akan melakukan intervensi ke 38 provinsi,” ujar Eddy.

Kegiatan tersebut ditutup dengan deklarasi komitmen bersama untuk memperkuat peran komite sekolah, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat dalam mencegah ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme di lingkungan pendidikan.(ZID)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *