FACEINDONESIA.CO.ID – Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama mendorong pengembangan pemberdayaan zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya (ZIS-DSKL) berbasis maritim. Kemenag melakukan studi modeling usaha produktif budidaya perikanan laut di Batam, Kepulauan Riau.
Hal itu dilakukan dengan audiensi dan kunjungan lapangan ke Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam, Sabtu (24/1/2026). Giat ini juga melibatkan BAZNAS DKI Jakarta, LAZ Batam, serta pemerintah daerah. Tujuannya, penguatan kolaborasi lintas sektor dalam pembangunan ekonomi umat berbasis kelautan.
Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Waryono Abdul Ghafur, mengatakan, pengembangan zakat produktif memiliki dasar regulasi yang kuat melalui Peraturan Menteri Agama tentang Pendayagunaan Zakat untuk Usaha Produktif.
“Zakat dapat dan harus dimanfaatkan untuk mendorong kemandirian ekonomi mustahik melalui pendampingan, penguatan kapasitas usaha, dan pembiayaan berkelanjutan, bukan semata bantuan konsumtif,” tegas Waryono.
Menurut Waryono, pendekatan studi modeling tersebut sejalan dengan Asta Protas Menteri Agama, terutama dalam penguatan pemberdayaan ekonomi umat dan ekoteologi. “Pemanfaatan potensi laut melalui zakat produktif tidak hanya mendorong kesejahteraan mustahik, tetapi juga menjaga keberlanjutan sumber daya alam dan ekosistem pesisir,” ujarnya.
Waryono menyebut, pendampingan menjadi kunci utama keberhasilan pendayagunaan zakat produktif. Oleh karena itu, sinergi antara Kemenag, BAZNAS, LAZ, pemerintah daerah, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem pemberdayaan yang berkelanjutan.
Dalam kunjungan lapangan, rombongan meninjau berbagai unit budidaya laut yang dikelola BPBL Batam, di antaranya bawal bintang, kerapu, kakap putih, ikan napoleon, serta ikan hias laut seperti nemo dan jade perch. BPBL Batam juga memperkenalkan model budidaya lobster yang mencakup pendederan, pembesaran di keramba jaring apung, manajemen pakan, serta pengendalian kesehatan ikan berbasis laboratorium terakreditasi.
Kepala BPBL Batam, Ipong Adi Guna, menyampaikan bahwa komoditas tersebut memiliki nilai ekonomi tinggi dan peluang pasar domestik maupun ekspor. “Komoditas ini sangat potensial dikembangkan sebagai basis pemberdayaan mustahik pesisir. Kami juga menyediakan bimbingan teknis, pelatihan gratis, hingga program magang dan inkubasi usaha bagi masyarakat,” ujarnya.
Dari sisi pendayagunaan zakat, Wakil Ketua II BAZNAS DKI Jakarta, Muhammad Bahaudin, menyatakan kesiapan mengintegrasikan dana ZIS-DSKL untuk mendukung skema pemberdayaan mustahik berbasis laut dan maritim. “Skema ini diarahkan pada pembiayaan usaha produktif, penguatan kelembagaan kelompok nelayan dan pembudidaya, serta pendampingan agar mustahik mampu naik kelas menjadi pelaku ekonomi yang mandiri dan berdaya saing,” katanya.
Program ini diharapkan berdampak nyata bagi mustahik, antara lain peningkatan pendapatan keluarga nelayan, terciptanya lapangan kerja baru di sektor budidaya laut, peningkatan keterampilan teknis, serta penguatan ketahanan pangan dan gizi masyarakat pesisir.
Melalui studi modeling ini, pemberdayaan mustahik di wilayah kepulauan diproyeksikan menjadi rujukan nasional pengembangan desa maritim berbasis zakat yang dapat direplikasi di berbagai wilayah pesisir Indonesia. (San)






